Sabtu, 02/03/2024 04:20 WIB

Harga Beras Impor Naik Rp1.400 per Kg, Ada Apa?

Data stok beras yang ada di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) saat ini mencapai 47 ribu ton dan data Perum Bulog yakni pengadaan tahun 2018 mencapai 1,5 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Bulog, Budi Waseso usai melakukan inspeksi mendadak di Pasar Keramat Jadi dan Pasar Induk Beras Cipinang (Foto: Ist))

Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dan Dirut Perum Bulog, Budi Waseso kompak menegaskan stok beras dalam negeri melimpah sehingga tidak diperlukan impor.

Hal ini dibuktikan dengan data stok yang ada di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) saat ini mencapai 47 ribu ton dan data Perum Bulog yakni pengadaan tahun 2018 mencapai 1,5 juta ton sehingga stok yang ada di gudang mencapai 2,8 juta ton.

Karena itu, Budi Waseso mempertanyakan motif di balik kebijakan impor beras yang mencapai 2 juta ton di tahun ini. Ia menilai terdapat keuntungan yang sangat besar yang diraup yakni mencapai Rp1.400 per kg bila dibandingkan harga beras impor di tahun 2016.

"Beras impor tahun ini apabila dibandingkan 2016 yang harganya USD 398, sedangkan beras impor sekarang USD457,36. Jadi selisihnya kalau kita kurs ke dollar Rp 7.500 dengan Rp 6.018. Jadi selisinya hampir Rp1.400 apabila dibandingkan tahun sebelumnya," terang Buwas saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Mentan Amran ke Pasar Kramat Jati dan Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (14/9).

Akan hal ini, Buwas menyimpulkan terjadi kenaikan harga beras impor di tahun ini. Menurutnya, kenaikan harga ini aneh karena harga beras dalam negeri atau lokal saat ini tengah mengalami penurunan.

"Berarti harga impornya naik. Harga lokal turun. Padahal faktanya, kalau kita bandingkan, harga beras impor relatif harganya tidak jauh dengan harga lokal. Selisih impor 2016 dan 2018 itu yang lalu bukan di era saya. Kita tahu tadi selisinya Rp 1.400 per kg," bebernya.

Buwas pun menilai mahalnya harga beras impor menjadi biang kerok kenaikan harga beras dalam negeri, sehingga pemerintah melakukan operasi pasar harga stabil. Karena itu lah, impor beras dihindari.

"Dengan selisih harga yang lebih mahal maka kita jadinya operasi pasar. Jadi mahal jika menggunakan beras impor. Itulah mengapa kita menghindari impor. Sementara tadi yang sudah kita lihat itu semua beras lokal, beras dalam negeri. Makanya belum perlu supplay dari bulog," ucapnya.

"Karena itu tidak efisien jika ada perintah untuk impor. Sebab harganya malah akan semakin naik karena dollarnya semakin naik," tegas Buwas.

Lebih lanjut Buwas menegaskan jika melihat stok beras saat ini, kebijakan impor tidak perlu dilakukan. Stok beras di gudang milik Perum Bulog per 14 September 2018 mencapai 2,3 juta ton dan di gudang sewa sebanyak 500 ribu ton sehingga totalnya 2,8 juta ton.

"Saya sudah sewa gudang kurang lebih 500.000 ribu ton. Mengingat keterbatasan gudang ini dan mengingat masih ada panen di sejumlah daerah. Kita juga masih menyerap produk dalam negeri. Jadi saya rasa hingga sekarang kita belum membutuhkan beras impor," jelas Buwas.

Menteri Amran mengatakan Kementerian Pertanian (Kementan) bertanggung jawab pada tingkat produksi, sehingga tidak ada alasan untuk menaikkan harga. Dari hasil sidak, di puncak musim kemarau, supply beras masih normal di Pasar Induk Beras Cipinang bahkan stok gudang mencapai 47.000 ton.

"Kondisi stok ini di atas batas normal hingga 2 kali lipat, dan harga malah turun di bawah HET, ini harus dijaga jangan berubah lagi. Kondisi saat sekarang, bukan kebetulan, ini sudah 3 tahun, kita lakukan bersama petani, kerja kerja kerja," ujarnya.

Buktinya, sambung Amran, jika dulu setiap tahunnya target luas tanam hanya 500 ribu hektare. Akibatnya setiap musim kering dan di awal tahun selalu harga beras akan bergejolak dan menyumbang inflasi.

Namun demikian, dengan teknologi yakni mulai dari benih, pupuk, alat mesin pertanian, traktor dan pompa air hingga embung dan luas tambah tanam yang ditargetkan minimal 1 juta hektar sejak tahun 2015, produksi padi selalu mencukupi kebutuhan.

"Bisa kita lihat di lapangan faktanya beras melimpah, stok gudang Jakarta Food Station, 47 ribu ton, jauh diatas batas normal, kami puas dengan semua ini. Paradigma baru Pembangunan Pertanian. Hari ini kita buktikan," tegasnya.

KEYWORD :

Kementan Bulog PIBC




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :