Rabu, 28/07/2021 22:06 WIB

Lantaran Saling Ledek Picu Tawuran Antar Pelajar

Pola tawuran antar pelajar akhir-akhir ini kerap dipicu oleh masalah sepele seperti saling ejek dan membully di media sosial.

Pola tawuran antar pelajar akhir-akhir ini kerap dipicu oleh masalah sepele seperti saling ejek dan membully di media sosial.

Jakarta - Lama tak terdengar kasus tawuran antar pelajar, namun publik dikejutkan oleh sejumlah kasus tawuran pelajaran yang kembali menelan korban. Korban meninggal AH (16 tahun) yang meninggal akibat tawuran pelajar di Jakarta Selatan.

Menurut polisi, tewasnya AH yang diserang dengan celurit dan air keras itu bermula dari saling ejek di media sosial. Ada 29 orang ditangkap polisi, 10 orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Polisi mengungkapkan adanya peran alumnus salah satu sekolah yang bertikai itu sehingga tawuran terjadi. KPAI mencatat, terhitung sejak 23 Agustus 2018 hingga Sabtu (8/9/2018), sedikitnya telah terjadi empat kali tawuran di wilayah berbeda.

Berdasarkan data di bidang pendidikan, kasus tawuran pelajar yang tercatat di KPAI terus mengalami penurunan sejak 2014-2017. Pada tahun 2014 total kasus tawuran di bidang pendidikan mencapai 24 persen, tahun 2015 menurun menjadi 17,9 persen turun lagi di tahun 2016 menjadi 12,9 persen dan tahun 2017 juga 12,9 persen. Data berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto pola tawuran antar pelajar akhir-akhir ini kerap dipicu oleh masalah sepele seperti saling ejek dan membully di media sosial.

"Mereka pun kerap “janjian” tawuran melalui media social, seperti menentukan tempat dan waktu tawuran, lengkap dengan jam yang disepakati," ungkapnya di Jakarta, Rabu (12/9).

Untuk menghindari pihak polisi, tawuran pun dilakukan pada dini hari ketika situasi jalan masih sepi. Biasanya, para remaja ini tergabung dalam “genk” yang melibatkan tidak hanya teman satu sekolah tetapi juga teman beda sekolah.

Jika beda sekolah, biasanya ketika di jenjang sekolah sebelumnya mereka satu sekolah, misalnya saat SMP, namun pisah sekolah saat mereka SMA.

Terkait masalah tawuran pelajar tersebut maka Susanto mendorong
penyelesaian kasus tawuran pelajar harus melibatkan sejumlah OPD terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga serta para kepala sekolah yang lokasi sekolahnya berdekatan.

"Penyelesaian harus fokus menemukan akar masalahnya dan dilakukan pendekatan mediasi yang melibatkan orangtua siswa," ungkapnya.

Susanto juga mengimbau para orangtua dan guru harus memiliki media social dan mengetahui media social anak-anak yang berpotensi melakukan tawuran, sehingga bisa melakukan upaya preventif.

Harus digelar secara rutin berbagai kegiatan pentas seni maupun olahraga bersama antar sekolah yang kerap tawuran sehingga energy negative bisa dihilangkan dan saat melakukan aktivitas bersama bisa saling mengenal lebih dalam sehingga meminimalkan konflik.

Asian Games 2018 adalah contoh positif ketika ribuan pelajar dari berbagai sekolah menyatu berlatih menari selama beberapa bulan, sehingga menghasilkan tarian indah yang kita saksikan saat pembukaan Asian Games 2018 lalu di GBK Jakarta.

TAGS : Anak Tawuran Pelajar KPAI




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :