Sabtu, 25/09/2021 23:11 WIB

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Minyak mentah Brent berjangka LCOc1 berada di USD72,88 per barel (pb), naik 7 sen dari penutupan terakhir mereka. Sedangakan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 naik 16 sen menjadi USD67,79 (pb).

Kilang minyak (Foto: Shutterstock)

Singapura - Harga minyak merangkak naik pada Senin (13/8). Kenaikan itu dibayang-bayangi kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi di tengah ketegangan perdagangan global. Terutama konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).

Minyak mentah Brent berjangka LCOc1 berada di USD72,88 per barel (pb), naik 7 sen dari penutupan terakhir mereka. Sedangakan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 naik 16 sen menjadi USD67,79 (pb).

Setelah keluar dari pakta 2015 Mei lalu, nyaris bersamaa Gedung Putih juga menerapkan sanksi baru terhadap Iran pada 6 Agustus, yang mulai November depan akan menggeber sektor minyak Iran.

"Dengan sanksi AS terhadap Iran, semua mata tertuju pada dampak pada ekspor minyak mentah dari negara itu," kata bank ANZ, dilansir Reuters, Senin (13/8).

"Mempertahankan pasokan minyak global sangat menantang," kata bank tersebut meskipun menambahkan, "AS melakukan sedikit meningkatkan produksi, dengan data yang menunjukkan aktivitas pengeboran terus meningkat."

Perusahaan-perusahaan energi AS pekan lalu menambahkan sebagian besar rig minyak sejak Mei, naik menjadi 10 rig untuk dengan jumlah keseluruhan menjadi 869, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes.

"Itu adalah tingkat aktivitas pengeboran tertinggi sejak Maret 2015," katanya.

Sanksi tersebut juga berpotensi membebani pasar minyak adalah tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan permintaan bahan bakar, terutama di pasar negara berkembang besar Asia.

"Permintaan yang lebih rendah dari Tiongkok, importir terbesar dunia, datang pada saat kritis ketika pertumbuhan permintaan dari Asia secara umum dipertanyakan. Ini karena dampak negatif dari perang dagang, dolar yang lebih kuat dan meningkatnya biaya pendanaan," kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank Denmark.

TAGS : minyak Iran Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :