Rabu, 01/12/2021 03:55 WIB

Eropa Meragukan, China Salah Satu Harapan Iran

Perkembangan terakhir menunjukkan meningkatnya ketergantungan Iran pada China.

Presiden Hassan Rouhani

Tehran - Presiden Iran Hassan Rouhani akan bertandang ke China, Jumat (8/6) untuk pertemuan puncak ekonomi dan keamanan di kota pesisir Qingdao.  Ia diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping terkait hubungan bilateral, dan masa depan kesepakatan nuklir.

Di tengah meningkatnya sentimen anti-Iran dari Barat, para analis mengatakan, pertemuan, Rouhani dengan Xi akan memberikan kesempatan bagi Teheran untuk semakin memperkuat hubungan ekonomi dan politiknya dengan Beijing, dan bagi China memperkuat pengaruh geopolitiknya yang semakin meningkat di wilayah tersebut.

Pada Rabu, Global Times, melaporkan bahwa kunjungan Rouhani akan membawa hubungan strategis Iran dengan China ke tingkat yang baru.

"Tidak seperti AS, China tidak akan melanggar janjinya dan akan memastikan bahwa hubungan China-Iran tidak akan terpengaruh," kata mantan duta besar China untuk Iran, Hua Liming, kepada media milik negara.

Bagi Iran, negara yang membanggakan diri sebagai "Bukan Barat atau Timur", keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membatalkan perjanjian nuklir, berarti menyesuaikan kembali kebijakannya agar lebih dekat dengan Timur.

Perkembangan terakhir menunjukkan meningkatnya ketergantungan Iran pada China. Itu terlihat kala raksasa energi Perancis, Total, mengumumkan pada  Mei akan keluar dari proyek gas bersama di Iran karena khawatir sanksi AS, perusahaan China justru menaruh harapan.

Perusahaan perminyakan milik negara China, CNPC, mengumumkan, bersedia mengambil alih mayoritas saham proyek dari Total. Teheran juga mengatakan kepada Total bahwa pihaknya menunggu hingga 60 ke depan, jika tidak, kontrak akan ke China.

Pada 2017, ketika dua perusahaan Eropa mundur dari penawaran pada proyek untuk menyediakan crane baru di pelabuhan Chabahar, Iran tenggara, pemasok yang berbasis di Shanghai justru menyodorkan kontrak. (Al Jaeera)

TAGS : China Iran Amerika Serikat ekonomi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :