Kamis, 02/12/2021 23:14 WIB

Kenapa Jokowi belum Aman? Ini Tiga Alasannya

Presiden Jokowi dinilai belum aman dalam menjelang pelaksanaan Pilpres 2019. Selain elektabilitas masih di bawah 50 persen, ada sejumlah alasan yang menyebabkan Jokowi belum dalam posisi aman.

Presiden Joko Widodo

Jakarta - Presiden Jokowi dinilai belum aman dalam menjelang pelaksanaan Pilpres 2019. Selain elektabilitas masih di bawah 50 persen, ada sejumlah alasan yang menyebabkan Jokowi belum dalam posisi aman.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfarabi menjelaskan, ada tiga faktor yang mengakibatkan posisi Jokowi belum aman dalam memasuki tahun politik.

Pertama, publik belum merasa aman dengan permasalahan ekonomi. Dimana, isu ekonomi yang menjadi perhatian publik adalah mahalnya harga-harga sembako, makin meningkatnya pengangguran, dan sulitnya mencari lapangan kerja.

Berdasarka hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 52,6 persen responden menyatakan bahwa harga-harga kebutuhan pokon semakin memberatkan. 54 persen responden menyatakan lapangan kerja sulit didapatkan, dan 48,4 persen responden menyatakan pengangguran semakin meningkat.

Kedua, Jokowi rentan akan isu primordial. Isu agama dan politik diprediksi akan kembali muncul pada Pilpres 2019 seperti pada Pilkada DKI 2017, meski dengan kadar yang berbeda.

"Kekuatan Islam politik adalah mereka yang percaya, yakin, dan mengkampanyekan bahwa politik termasuk di dalamnya kriteria pemimpin tidak lepas dari ajaran agama," kata Adjie, di Kantornya, Jakarta, Jumat (2/2).

Jokowi pernah menyebutkan bahwa agama harus dipisahkan dari politik. Agama tak boleh dicampuradukkan dengan politik. Pandangan publik terpecah terhadap hal itu.

Dari survei LSI, sebesar 40,7 persen responden tak setuju agama dipisahkan dari politik. Sementara, 32,5 persen setuju agama dan politik harus dipisah.

Mereka yang setuju politik dan agama dipisah, mayoritas mendukung Jokowi kembali menjadi presiden, yaitu sebesar 58,6 persen. Sebaliknya, mereka yang tak setuju adalah pendukung bakal capres lain selain Jokowi yang angkanya 52,1 persen.

Ketiga, merebaknya isu buruh asing, terutama yang berasal dari China. Meski isu tersebut dianggap belum populer, tapi isu buruh asing sangat kuat resistensinya di mata publik.

Survei menunjukkan, hanya 38,9 persen responden yang tahu isu buruh asing menyerbu dan membanjiri Indonesia, bahkan sampai pelosok negeri.

"Adapun, 58,3 persen responden menyatakan tak suka dengan isu tersebut. Sisanya, 13,5 persen responden tak masalah dengan isu itu," terangnya.

Diketahui, survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 1200 orang. Survei dilakukan pada 7-14 Januari 2018. Wawancara dilakukan secara serentak dan tatap muka di 34 provinsi di Indonesia. Sedangkan margin of error kurang lebih 2,9 persen.

TAGS : Pilpres 2019 Presiden Jokowi Cawapres Muhaimin Iskandar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :