Kamis, 02/12/2021 22:43 WIB

China Usulkan Tiga Tahapan Akhiri Krisis Rohingya

Pemerintah China menyarankan tiga tahap untuk menyelesaikan krisis Rohingya. Salah satunya dimulai dengan gencatan senjata di Negara Rakhine Myanmar.

Pengungsi Rohingya menunggu kapal menyeberangi perbatasan melalui sungai Naf di Maungdaw, Myanmar, 7 September 2017 (Foto: Mohammad Ponir Hossain)

Naypyidaw - Pemerintah China menyarankan tiga tahap untuk menyelesaikan krisis Rohingya. Salah satunya dimulai dengan gencatan senjata di Negara Rakhine Myanmar. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menjelang pertemuan pejabat Eropa dan Asia di Myanmar, Senin (20/11).

Berbicara di Naypyidaw pada Minggu (19/11) setelah tiba dari Dhaka, Wang Yi mengatakan,  China percaya krisis Rohingya dapat ditangani dengan solusi yang dapat diterima oleh tetangga Myanmar dan Bangladesh melalui konsultasi.

"Tahap pertama adalah melakukan gencatan senjata, untuk memastikan stabilitas dan ketertiban, sehingga etnis Rohingya dapat menikmati kedamaian dan tidak lagi dipaksa untuk melarikan diri," kata kementerian luar negeri China dalam sebuah pernyataan yang mengutip Wang.

"Dengan kerja keras semua pihak, tujuan tahap pertama pada dasarnya telah tercapai, dan kuncinya adalah mencegah terjadinya suar, terutama tidak ada menghidupkan kembali nyala api perang," tambahnya, dilansir Reuters, Senin (20/11)

Setelah gencatan senjata berjalan, Wang mengusulkan agar lankah itu disusul dengan dialog bilateral untuk menemukan solusi yang dapat diterapkan, dan fase ketiga atau yang terakhir  harus bekerja menuju solusi jangka panjang berdasarkan pengentasan kemiskinan.

Wang mengatakan bahwa kemiskinan adalah akar penyebab konflik.

Militer Myanmar mengatakan bahwa semua  gerilyawan etnis Rohingya meninggal pada tanggal 5 September, namun tetap waspada terhadap serangan oleh pejuang yang melarikan diri ke Bangladesh dengan para pengungsi tersebut.

Krisis pengungsi meletus setelah militer melancarkan operasi kontra-pemberontakan brutal terhadap militan, menysul serangan terhadap sebuah pangkalan militer dan puluhan pos keamanan polisi di Rakhine pada 25 Agustus.

Kelompok di balik serangan tersebut, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), telah mengumumkan gencatan senjata satu bulan pada tanggal 10 September, yang ditolak oleh pemerintah. Namun, sejak itu tidak ada bentrokan serius.

Saat mengunjungi Myanmar minggu lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson mengutuk serangan ARSA, dan menyuarakan dukungan untuk transisi Myanmar menuju demokrasi di bawah pemerintahan sipil yang dipimpin oleh pemenang penghargaan perdamaian Aung San Suu Kyi.

Namun Tillerson juga menyerukan penyelidikan yang kredibel terhadap laporan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Rohingya yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar.

TAGS : Myanmar Bangladesh Rohignya China Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :