Minggu, 13/06/2021 19:11 WIB

Amerika Belum Kasih Sanksi, Tapi Penyelidikan Krisis Rohingya

Pemerintah Amerika Serikat meminta penyelidikan independen atas tuduhan tentara yang melakukan kekejaman terhadap minoritas Muslim tersebut.

Pengunsi Rohingya meninggalkan kampung halamannya ke Bangladesh (Foto: Al jazeera)

Naypyidaw - Diplomat utama Washington pada Rabu (15/11) mengatakan bahwa Amerika Serikat belum akan menjatuhkan sanksi kepada Myanmar terkait krisis pengungsi Rohingya. Meski begitu, ia meminta penyelidikan independen atas tuduhan tentara yang melakukan kekejaman terhadap minoritas di wilayah tersebut.

Berbicara setelah pertemuan dengan panglima militer dan Suu Kyi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Tillerson mengatakan, "Sanksi ekonomi yang luas, menurut saya bukan sesuatu yang tepat saat ini."

"Kami ingin melihat Myanmar berhasil," katanya kepada wartawan pada konferensi pers bersama di samping Suu Kyi. "Anda tidak bisa hanya menjatuhkan sanksi dan mengatakan bahwa krisis sudah berakhir."

Namun, ia mengatakan Washingtonsangat prihatin atas laporan mengenai kekejaman yang dilakukan oleh pasukan keamanan dan warga Myanmar. Ia mendesak Myanmar untuk menerima penyelidikan independen atas tuduhan tersebut.

Tillerson berbicara setelah pemberhentian satu hari di Naypyidaw, menyusul kecaman global militer Myanmar yang dituduh melakukan kampanye pembersihan etnis melawan Rohingya.

Lebih dari 600.000 orang Rohingya meninggalkan negara bagian terutama Buddhis sejak militer melancarkan operasi pemberontakan di negara bagian Rakhine utara pada akhir Agustus.

Militer Myanmar mengaku hanya menyerang pemberontak Rohingya. Namun, para pengungsi di kamp-kamp Bangladesh yang mengerikan menyebtu, mereka melakukan pembunuhan dan pemerkosaan yang mengerikan dan konsisten di tangan pasukan keamanan dan massa Buddhis.

Suu Kyi, yang jarang mengadakan konferensi pers, menanggapi kritikan yang selama ini menyebut dirinya hanya berpangku tangan,  "Saya tidak diam. Apa yang orang maksudkan adalah apa yang saya katakan tidak cukup menarik," katanya kepada wartawan, dilansir AFP, Rabu (14/11)

"Apa yang saya katakan tidak dimaksudkan untuk menjadi menarik, itu dimaksudkan untuk agar menjadi akurat. Tidak membuat orang saling melawan."

 

TAGS : Myanmar Bangladesh Rohignya Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :