Minggu, 31/08/2025 14:06 WIB

Studi: Anak Autisme dan ADHD Lebih Sulit Buang Racun Plastik dari Tubuh

Penelitian baru mengungkap anak-anak dengan autisme (ASD) dan ADHD memiliki kemampuan lebih rendah dalam menetralisir zat kimia berbahaya dari plastik, seperti BPA

Ilustrasi polutan plastik (Foto: Pexels/Megda Ehlers)

Jakarta, Jurnas.com - Penelitian baru mengungkap anak-anak dengan autisme (ASD) dan ADHD memiliki kemampuan lebih rendah dalam menetralisir zat kimia berbahaya dari plastik, seperti BPA—menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi terhadap dampak lingkungan.

Bagi anak-anak yang hidup dengan spektrum autisme atau ADHD, tantangan sehari-hari sudah cukup kompleks. Kini, riset baru menunjukkan mereka juga membawa kerentanan biologis terhadap paparan zat kimia plastik yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE dan dipimpin oleh Dr. T. Peter Stein dari Rowan-Virtua School of Osteopathic Medicine ini menemukan bahwa anak-anak dengan ASD dan ADHD lebih lambat dalam mengeluarkan bisphenol A (BPA) dari tubuh mereka dibandingkan anak neurotipikal. BPA adalah senyawa kimia yang sering digunakan dalam plastik makanan dan kemasan.

Sistem Detoks yang Lemah

Studi ini meneliti kemampuan tubuh anak dalam melakukan glucuronidation, proses di mana hati menambahkan molekul gula ke racun seperti BPA agar bisa dikeluarkan melalui urin. Hasilnya, anak-anak dengan ASD menunjukkan efisiensi detoksifikasi BPA sekitar 11% lebih rendah, sementara anak dengan ADHD 17% lebih rendah dari kelompok kontrol.

“Ini adalah bukti biokimia pertama yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan neuroperkembangan tidak mendetoksifikasi BPA seefisien anak lain,” ujar Dr. Stein.

Meski belum membuktikan bahwa BPA menyebabkan autisme atau ADHD, penelitian ini menyoroti bagaimana zat kimia tersebut bisa bertahan lebih lama dalam tubuh anak-anak dengan kondisi ini—terutama di masa perkembangan otak yang krusial.

Risiko dari BPA dan DEHP: Lebih dari Sekadar Paparan

BPA dan DEHP (jenis ftalat lain yang diuji dalam studi ini) adalah pengganggu hormon atau endocrine disruptors yang bisa memengaruhi perkembangan neurologis. Studi ini menemukan pola metabolisme unik pada anak dengan ASD dan ADHD yang tidak terlihat pada anak neurotipikal.

Selain itu, studi lain sebelumnya menunjukkan bahwa paparan DEHP selama kehamilan dapat mengubah ekspresi gen melalui proses epigenetik seperti DNA methylation—mempengaruhi jaringan otak dan fungsi saraf anak di kemudian hari.

Mengapa Ini Penting?

Penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya yang mengaitkan paparan polutan lingkungan—seperti pestisida, asap kendaraan, dan zat kimia rumah tangga—dengan peningkatan risiko ASD dan ADHD. Yang jadi perhatian utama adalah waktu paparan, khususnya selama masa kehamilan dan tahun-tahun awal kehidupan anak.

Karena BPA ditemukan dalam barang sehari-hari seperti wadah plastik, kaleng makanan, dan struk belanja, implikasinya luas. Anak-anak dengan ASD dan ADHD bisa mengalami paparan jangka panjang meskipun dari jumlah kecil.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Pemerintah?

Meskipun studi ini tidak menyatakan BPA sebagai penyebab utama gangguan neuroperkembangan, ia menunjukkan bahwa anak-anak yang sudah memiliki kondisi tersebut perlu perlindungan lebih dari paparan bahan kimia.

Orang tua bisa mulai dengan langkah kecil namun berdampak, seperti: Menghindari wadah plastik dan kaleng ber-BPA, menggunakan botol kaca atau stainless steel, mengurangi konsumsi makanan olahan, dan menghindari menyentuh struk belanja termal.

Sementara itu, beberapa negara mulai memperketat regulasi terhadap BPA dan DEHP, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas dampak zat kimia ini bagi anak-anak.

Langkah Selanjutnya dalam Penelitian

Peneliti menyerukan studi lanjutan untuk memahami apakah ketidakmampuan detoksifikasi ini muncul sejak lahir atau berkembang seiring waktu. Meneliti variasi genetik pada enzim detoksifikasi juga dapat membantu mengidentifikasi anak-anak yang paling rentan.

Selain itu, pemahaman lebih dalam soal pengaruh paparan zat kimia pada perubahan epigenetik dapat membuka jalan bagi kebijakan kesehatan, pola makan, atau intervensi dini yang lebih efektif dalam melindungi perkembangan otak anak. (*)

Sumber: earth.com

KEYWORD :

Polusi kimia dan autisme ADHD dan racun plastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :