Ilustrasi lari (Foto; Jurnas/Instagram).
Jakarta, Jurnas.com - Tak perlu berlari kencang untuk mendapatkan respons dari otak. Sebuah penelitian menunjukkan, lari sangat lambat selama 10 menit dapat meningkatkan suasana hati, mempercepat respons dalam tugas yang menguji kemampuan mengendalikan gangguan, serta meningkatkan aktivitas di bagian tertentu dari otak.
Penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Tsukuba, Jepang, terutama melalui Institute of Health and Sport Sciences, melibatkan 24 orang dewasa muda yang sehat.
Setiap peserta menjalani dua sesi selama 10 menit pada hari yang berbeda. Dalam satu sesi mereka duduk, sedangkan pada sesi lainnya mereka berlari dengan kecepatan sangat lambat.
Intensitas lari ditetapkan sekitar 35 persen dari penggunaan oksigen maksimal masing-masing peserta. Dengan intensitas tersebut, aktivitas fisik yang dilakukan tergolong sangat ringan.
Yang menarik, kecepatan larinya bahkan cukup lambat untuk berjalan bagi banyak orang.
Peserta laki-laki berlari dengan kecepatan rata-rata sekitar 5,46 kilometer per jam, sedangkan peserta perempuan sekitar 3,86 kilometer per jam. Meski treadmill bergerak lambat, peserta tetap mempertahankan pola gerakan berlari dengan langkah-langkah kecil.
Rata-rata detak jantung juga relatif rendah, sekitar 105 denyut per menit pada laki-laki dan 107 denyut per menit pada perempuan. Penilaian peserta terhadap tingkat usaha yang dikeluarkan pun tetap berada dalam kategori sangat ringan.
Artinya, penelitian tersebut bukan menguji dampak latihan berat terhadap otak. Para peneliti justru ingin melihat apakah aktivitas sesederhana lari sangat lambat sudah dapat menghasilkan perubahan yang terukur.
Lari lambat diuji pada kemampuan otak
Setelah berlari atau duduk, peserta menjalani tes fungsi eksekutif yang berkaitan dengan kemampuan memusatkan perhatian dan mengabaikan gangguan.
Tes yang digunakan adalah Stroop task. Dalam tes ini, kata-kata yang menunjukkan nama warna terkadang ditampilkan menggunakan warna tulisan yang berbeda sehingga peserta harus mengabaikan informasi yang membingungkan dan memilih jawaban yang benar.
Peneliti kemudian mengukur waktu yang dibutuhkan peserta untuk menyelesaikan tugas tersebut. Semakin kecil tambahan waktu yang diperlukan ketika menghadapi informasi yang bertentangan, semakin efisien peserta menangani konflik tersebut.
Hasilnya, setelah lari sangat lambat selama 10 menit, peserta menunjukkan penurunan waktu respons tambahan yang lebih besar dibandingkan setelah duduk.
Dengan kata lain, mereka menjadi lebih cepat dalam menghadapi informasi yang saling bertentangan dalam tugas tersebut.
Namun, efeknya tidak muncul pada seluruh aspek kemampuan. Peneliti tidak menemukan peningkatan yang meyakinkan dalam tingkat ketepatan jawaban setelah peserta berlari.
Perbedaan ini penting karena hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa lari 10 menit secara tiba-tiba membuat seseorang menjadi lebih akurat dalam berpikir. Temuannya lebih spesifik, yakni adanya perubahan pada kecepatan memproses konflik informasi.
Selain itu, pengukuran dilakukan segera setelah satu sesi lari. Karena itu, penelitian ini menunjukkan respons jangka pendek, bukan peningkatan kemampuan berpikir yang bertahan lama.
Aktivitas korteks prefrontal ikut berubah
Para peneliti juga melihat aktivitas otak menggunakan functional near-infrared spectroscopy (fNIRS). Metode ini digunakan untuk melacak perubahan oksigenasi darah di dekat permukaan otak.
Perhatian penelitian diarahkan antara lain pada korteks prefrontal, wilayah otak yang berkaitan dengan perhatian, perencanaan, dan pengendalian diri.
Karena aktivitas fisik dapat memengaruhi sinyal yang diukur, peneliti menunggu lima menit setelah peserta berlari sebelum melakukan pengukuran.
Hasilnya, dua wilayah di sisi kiri korteks prefrontal menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi setelah lari sangat lambat dibandingkan setelah duduk.
Kedua wilayah tersebut berkaitan dengan proses perhatian, perencanaan, dan kontrol mental. Temuan ini memberikan petunjuk bahwa bahkan aktivitas fisik dengan intensitas sangat ringan dapat diikuti perubahan aktivitas pada wilayah otak yang berperan dalam pengendalian kognitif.
Perubahan suasana hati justru lebih jelas
Perubahan yang paling kuat dalam penelitian tersebut bukan hanya terlihat pada tugas kognitif, tetapi pada suasana hati peserta.
Para peserta menilai sejumlah kondisi emosional sebelum dan sesudah setiap sesi, termasuk energi, rasa hidup atau bersemangat, ketenangan, kejengkelan, dan kegugupan.
Penilaian tersebut digunakan untuk mengukur tingkat arousal, yakni seberapa aktif atau waspada seseorang merasa, serta rasa senang atau pleasure.
Keduanya meningkat lebih besar setelah peserta melakukan lari sangat lambat dibandingkan setelah duduk. Besarnya perubahan suasana hati bahkan lebih kuat dibandingkan efek yang terlihat pada tugas Stroop.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa respons jangka pendek yang paling terasa dari aktivitas ringan tersebut mungkin bukan peningkatan kemampuan kognitif yang besar, melainkan perubahan pada perasaan dan tingkat kewaspadaan.
Gerakan kepala memberi petunjuk lain
Peneliti juga melihat kemungkinan hubungan antara gerakan tubuh saat berlari dan perubahan suasana hati.
Berlari menghasilkan gerakan tubuh berulang, termasuk gerakan naik-turun kepala. Setelah sesi utama, peserta menggunakan sensor gerak di kepala dan kembali melakukan lari sangat lambat selama dua menit.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengalami akselerasi vertikal kepala lebih besar cenderung melaporkan peningkatan rasa senang yang lebih besar.
Perbedaan gerakan kepala tersebut menjelaskan sekitar 17 persen variasi peningkatan skor rasa senang. Namun, temuan ini tidak berarti gerakan kepala atau tubuh yang lebih banyak terbukti dapat meningkatkan suasana hati.
Gerakan kepala tidak berkaitan dengan performa Stroop yang lebih baik, peningkatan arousal, maupun aktivitas yang lebih kuat di dua wilayah korteks prefrontal yang diamati.
Karena itu, temuan tersebut masih menjadi petunjuk yang perlu diuji lebih lanjut dalam penelitian berikutnya.
Penelitian masih memiliki keterbatasan
Hasil penelitian ini menarik, tetapi belum dapat digeneralisasi kepada semua orang.
Jumlah peserta hanya 24 orang dewasa muda yang sehat. Karena itu, belum diketahui apakah efek yang sama akan terlihat pada orang lanjut usia, individu dengan tingkat kebugaran rendah, atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Penelitian juga membandingkan lari sangat lambat dengan duduk, bukan dengan berjalan pada kecepatan yang sama. Selain itu, peneliti hanya menguji satu tingkat intensitas aktivitas yang sangat ringan.
Durasi efeknya juga belum diketahui. Penelitian hanya menangkap perubahan yang terjadi setelah satu kali lari selama 10 menit sehingga belum dapat menjawab apakah efek tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
Meski masih terbatas, penelitian ini memberikan gambaran menarik mengenai hubungan antara aktivitas fisik ringan dan fungsi otak. Sepuluh menit lari sangat lambat dalam eksperimen tersebut dikaitkan dengan suasana hati yang lebih baik, respons yang lebih cepat dalam menghadapi konflik informasi, serta peningkatan aktivitas pada dua wilayah korteks prefrontal.
Temuan penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Imaging Neuroscience. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Lari Lambat Slow Jogging Aktivitas Otak













