Uni Emirat Arab mengatakan pada hari Senin bahwa sistem pertahanan udaranya telah membalas empat rudal yang ditembakkan dari Iran (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Iran menyatakan doktrin militernya bergeser dari posisi defensif menuju ofensif setelah memetik pelajaran dari dua perang yang disebut terjadi dalam periode 12 hari dan 40 hari.
Perubahan itu disebut ditandai dengan respons yang lebih cepat dan lebih luas terhadap serangan, termasuk kemungkinan melakukan operasi pendahuluan.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Pernyataan itu disampaikan kepada kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Sabtu (22/8/2026).
“Doktrin militer negara kami sebelumnya bersifat defensif, tetapi secara bertahap selama dua perang ini kami melihat doktrin militer bergerak dari posisi defensif menuju ofensif,” kata Akraminia.
Akraminia menegaskan bahwa doktrin ofensif tidak otomatis berarti Iran akan melakukan serangan pendahuluan. Namun, ia menyebut Iran pernah menerapkan pendekatan tersebut dalam salah satu fase konflik dengan menyerang pangkalan Amerika Serikat di Yordania sebelum AS memasuki perang.
Ia mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan serius terhadap peralatan, fasilitas dan personel AS. Klaim tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan tidak disertai verifikasi independen dalam laporan yang dikutip.
Selain perubahan doktrin, Angkatan Darat Iran juga disebut menyiapkan skema imbalan apabila pasukan AS melakukan serangan darat dan memasuki wilayah Iran.
Akraminia mengatakan anggota militer maupun warga sipil yang secara legal memiliki senjata berburu akan mendapat imbalan 5 miliar toman atau sekitar US$26.000 jika membunuh atau menangkap personel AS yang masuk ke Iran.
Nilai tersebut disebut akan menjadi 10 miliar toman atau sekitar US$53.000 apabila tindakan tersebut dilakukan oleh seorang perempuan.
Dalam skema itu, senjata yang digunakan juga akan dibeli oleh Angkatan Darat Iran dengan harga dua kali lipat dari nilainya. Senjata tersebut kemudian disebut akan disimpan di museum militer atas nama pemiliknya, sementara pemiliknya akan memperoleh senjata pengganti yang serupa.
Pernyataan mengenai imbalan tersebut muncul ketika Iran menyatakan sedang menyesuaikan strategi militernya berdasarkan pengalaman dari konflik terbaru.
Menurut Akraminia, perubahan doktrin tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan operasi pendahuluan. Iran juga ingin memastikan setiap serangan terhadap wilayahnya mendapat respons segera.
Respons tersebut, menurut dia, bahkan dapat memiliki cakupan lebih luas dibandingkan serangan awal. Pendekatan itu disebut telah terlihat selama konflik melalui serangkaian respons cepat dan lebih luas terhadap serangan yang diterima Iran.
Iran juga baru-baru ini menggabungkan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dengan Staf Umum Angkatan Bersenjata. Akraminia mengatakan langkah tersebut ditujukan untuk membuat struktur militer lebih lincah, memperkuat kesatuan komando dan mempercepat pengambilan keputusan ketika menghadapi ancaman.
Dalam pernyataan yang sama, Akraminia mengatakan Iran masih menempuh jalur hukum dan diplomatik untuk mengetahui status tiga pilot pesawat tempur Su-24 Iran yang menurutnya belum mendapat kejelasan dari Qatar.
Ia menyebut satu dari empat pilot yang terlibat dalam serangan terhadap pangkalan AS di Qatar, Brigadir Jenderal Majid Kazemi, telah tewas dan dimakamkan di Shiraz. Sementara itu, keberadaan tiga pilot lainnya masih dipertanyakan oleh pihak Iran.
Akraminia mengatakan masalah tersebut sedang ditangani melalui Kementerian Luar Negeri dan Angkatan Darat Iran dengan melibatkan pihak Qatar serta pihak internasional. Iran meminta Qatar memberikan kejelasan mengenai status para pilot tersebut sesuai konvensi internasional.
Akraminia juga mengklaim pengaruh Amerika Serikat di kawasan telah menurun tajam. Ia merujuk pada mekanisme pertahanan dan keamanan yang menurutnya dibentuk Arab Saudi, Turki dan Pakistan tanpa keterlibatan Washington.
Menurutnya, terlepas dari efektivitas mekanisme tersebut di masa mendatang, pembentukannya menunjukkan adanya perubahan dalam arsitektur keamanan regional. Ia bahkan menyebutnya sebagai mekanisme pertahanan dan keamanan regional pertama yang dibentuk tanpa partisipasi AS. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Militer Iran Doktrin Militer Strategi Ofensif
















