Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, New York, AS, 23 September 2025 (Foto: REUTERS)
Washington, Jurnas.com - Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran mencegah serangan lanjutan AS ke Teheran hingga dua tahun.
Ia mengatakan tanpa kesepakatan tersebut, Selat Hormuz tidak akan kembali dibuka.
"Jika kami tak membuat kesepakatan ini, kami bisa saja menjatuhkan lebih banyak bom selama dua minggu, tiga minggu, empat minggu, bahkan hingga dua tahun," kata Trump dalam konferensi pers, Rabu (17/6).
Donald Trump Beri Peringatan Keras kepada Iran
Ia juga mengeklaim bahwa pasar akan terus merosot ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, bukan justru menguat seperti saat ini.
"Orang-orang yang sok jagoan tak menyadari bahwa ini bukan kesepakatan yang disusun dalam tiga bulan. Ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kalian tahu kenapa? Karena sayalah yang membunuh Jenderal Soleimani," kata Trump.
Qasem Soleimani adalah Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang tewas dalam serangan AS.
Menurut Trump, jika Soleimani tidak tewas, kesepakatan damai dengan Iran mungkin tidak akan pernah tercapai.
Trump juga mengatakan bahwa tanpa kesepakatan damai, Iran berisiko menghadapi bencana ekonomi dan ia tidak ingin hal itu terjadi.
Pada 14 Juni, Iran dan AS mengonfirmasi bahwa penyusunan nota kesepahaman (MoU) perdamaian telah rampung. Dokumen itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6).
MoU itu memberi waktu 60 hari bagi kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS.
Pada Rabu, Trump juga mengatakan dirinya mungkin akan tetap berada di Eropa untuk menghadiri penandatanganan MoU tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kesepakatan Damai Perang Iran Donald Trump
























