Rabu, 17/06/2026 10:48 WIB

Studi: Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat, Energi Gelap Masih jadi Misteri





Teori bahwa alam semesta terus mengembang dengan kecepatan yang semakin meningkat kembali mendapat dukungan kuat dari penelitian terbaru

Ilustrasi - Ilmuwan komfirmasi alam semesta mengembang lebih cepat, misteri energi gelap belum terpecahkan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Teori bahwa alam semesta terus mengembang dengan kecepatan yang semakin meningkat kembali mendapat dukungan kuat dari penelitian terbaru.

Temuan itu sekaligus membantah klaim kontroversial yang sempat menyebut bahwa percepatan ekspansi alam semesta mungkin tidak pernah terjadi dan energi gelap (dark energy) tidak benar-benar ada.

Penelitian yang dipimpin astrofisikawan dari University of Southampton, Dr. Phil Wiseman, menyimpulkan bahwa alam semesta masih mengembang semakin cepat seperti yang selama ini diyakini para ilmuwan.

Dikutip dari Earth, studi tersebut merupakan respons terhadap penelitian sebelumnya dari sekelompok peneliti Korea Selatan yang mengusulkan bahwa percepatan ekspansi alam semesta sebenarnya merupakan kesalahan interpretasi data pengamatan supernova.

Jika klaim tersebut benar, maka salah satu konsep paling penting dalam kosmologi modern, yakni energi gelap, bisa jadi tidak pernah ada.

Namun setelah melakukan analisis ulang secara mendalam, tim internasional menemukan bahwa klaim tersebut muncul akibat kesalahan dalam memahami usia bintang dan galaksi yang diamati.

"Alam semesta tetap berada pada jalurnya. Ekspansi masih dipercepat dan energi gelap tetap menjadi penjelasan terbaik yang tersedia saat ini," tulis tim peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Pemahaman ilmuwan mengenai ekspansi alam semesta sebagian besar berasal dari pengamatan terhadap supernova tipe Ia, yaitu ledakan bintang yang memiliki tingkat kecerahan relatif seragam.

Karena tingkat cahayanya dapat diprediksi, supernova jenis ini digunakan sebagai "lilin standar" kosmik untuk mengukur jarak objek di alam semesta.

Pada akhir 1990-an, dua tim astronom menemukan bahwa supernova yang sangat jauh tampak lebih redup daripada yang diperkirakan. Temuan itu menunjukkan bahwa objek tersebut berada lebih jauh dari posisi yang seharusnya jika alam semesta hanya mengembang secara normal.

Penemuan tersebut menjadi bukti pertama bahwa ekspansi alam semesta justru semakin cepat dari waktu ke waktu.

Temuan bersejarah itu kemudian mengantarkan dua ilmuwan, yakni Adam Riess dan Brian Schmidt, meraih Penghargaan Nobel Fisika tahun 2011.

Peneliti Korea Selatan sebelumnya berargumen bahwa kecerahan supernova berubah seiring usia galaksi tempat bintang tersebut berada. Menurut mereka, perubahan ini bisa menciptakan ilusi seolah-olah alam semesta mengembang lebih cepat.

Namun tim Wiseman menemukan adanya kesalahan mendasar dalam asumsi tersebut.

Penelitian sebelumnya menyamakan usia sebuah galaksi dengan usia bintang yang meledak menjadi supernova. Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Sebuah galaksi bisa berusia lebih dari 10 miliar tahun, sementara bintang yang baru meledak di dalamnya mungkin terbentuk jauh lebih muda.

Ketika faktor tersebut diperhitungkan secara benar, perbedaan usia yang sebelumnya dianggap signifikan ternyata menyusut drastis dan tidak cukup kuat untuk menjelaskan percepatan ekspansi alam semesta.

Tim peneliti juga menemukan bahwa studi sebelumnya mengabaikan faktor penting yang selama ini sudah diperhitungkan dalam penelitian supernova modern.

Para astronom telah lama mengetahui bahwa supernova yang terjadi di galaksi besar cenderung sedikit lebih terang dibandingkan yang berada di galaksi kecil. Karena itu, analisis modern selalu memasukkan koreksi berdasarkan ukuran dan massa galaksi.

Ketika koreksi tersebut diterapkan kembali ke data yang sama, hubungan antara usia galaksi dan tingkat kecerahan supernova hampir sepenuhnya menghilang.

Hasil ini menunjukkan bahwa efek yang ditemukan peneliti Korea Selatan memang ada, tetapi terlalu kecil untuk menggugurkan keberadaan energi gelap.

Meski penelitian terbaru memperkuat teori percepatan ekspansi alam semesta, para ilmuwan mengakui bahwa hakikat energi gelap masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam ilmu pengetahuan modern.

Saat ini, energi gelap diperkirakan menyusun hampir 70 persen isi alam semesta dan diyakini menjadi penyebab utama mengapa galaksi-galaksi terus saling menjauh dengan kecepatan yang semakin tinggi.

"Klaim luar biasa membutuhkan pengujian yang sangat hati-hati," kata Adam Riess, salah satu penerima Nobel Fisika yang ikut menulis studi terbaru tersebut.

Menurut para peneliti, pertanyaan terbesarnya saat ini bukan lagi apakah energi gelap benar-benar ada, melainkan apa sebenarnya energi gelap itu.

Untuk menjawab misteri tersebut, para astronom berharap data baru dari berbagai observatorium modern, termasuk Vera C. Rubin Observatory di Chile, dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai salah satu komponen paling misterius di alam semesta.

Temuan terbaru ini sekaligus memperkuat konsensus ilmiah bahwa alam semesta masih terus mengembang dengan laju yang semakin cepat, sebagaimana telah diyakini para astronom selama lebih dari dua dekade terakhir. (*)

KEYWORD :

Alam Semesta Percepatan ekspansi alam semesta Misteri Energi Gelap




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :