Selasa, 14/04/2026 03:51 WIB

Jarang Disadari, Ini Cara Sederhana agar Dicintai Allah SWT





Meraih kecintaan Allah SWT kerap dipersepsikan harus melalui amalan besar yang berat secara fisik.

Ilustrasi - berdoa kepada Allah SWT (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Meraih kecintaan Allah SWT kerap dipersepsikan harus melalui amalan besar yang berat secara fisik.

Namun, dalam ajaran Islam terdapat nilai luhur yang justru terletak pada kemampuan menjaga ketenangan jiwa dan kelembutan sikap. Kualitas batin ini menjadi bagian penting dalam membentuk kepribadian seorang mukmin yang diridai oleh Allah.

Salah satu teladan yang disebutkan dalam hadis adalah pujian Rasulullah SAW kepada Al-Asyaj bin ‘Abdul Qois.

Ia dipuji karena memiliki dua sifat istimewa yang sangat dicintai oleh Allah, yaitu kemampuan menahan diri dan bersikap tenang dalam menghadapi berbagai situasi.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ
Artinya: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu kelembutan (sabar) dan ketenangan.” (HR. Muslim)

Sifat pertama adalah al-hilm, yakni kemampuan mengendalikan emosi dan menahan amarah. Sikap ini sangat penting dalam menjaga hubungan antarmanusia serta menghindarkan diri dari konflik yang merugikan.

Al-Qur`an juga menegaskan keutamaan orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Sifat kedua adalah al-anaah, yaitu sikap tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Ketenangan dalam mengambil keputusan menjadi kunci agar seseorang tidak terjebak dalam kesalahan akibat emosi atau dorongan sesaat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya ketenangan:

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya: “Ketenangan itu berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.” (HR. Muslim)

Kedua sifat ini menjadi fondasi penting dalam membangun akhlak seorang Muslim.

Dengan memiliki kelembutan hati dan ketenangan dalam bertindak, seseorang akan lebih mampu menjaga hubungan sosial serta menghindari keputusan yang merugikan.

Lebih dari sekadar kemampuan mengelola emosi, sikap sabar dan tenang merupakan bentuk ketaatan kepada ajaran agama. Hal ini mencerminkan kedewasaan iman sekaligus menjadi jalan untuk meraih rida Allah SWT.

KEYWORD :

Info Keislaman Allah SWT Rasulullah SAW Dicintai Allah SWT




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :