Ilustrasi cahaya Bumi (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Pernahkah Anda melihat kota di malam hari yang tampak “hidup”, seolah bernapas dengan cahaya yang berdenyut? Dari luar angkasa, pemandangan itu jauh lebih dramatis. Bumi tidak hanya bersinar—ia berkedip, berubah, dan terus bergerak mengikuti aktivitas manusia.
Temuan terbaru dari citra satelit mengungkap fakta menarik: cahaya malam di Bumi memang meningkat, tetapi tidak secara stabil. Justru, pola terang dan gelapnya terus berubah dari waktu ke waktu.
Dikutip dari Earth penelitian berbasis data satelit dari NASA dan NOAA menunjukkan bahwa cahaya malam di Bumi tidak bertambah secara linear.
Tips Menjaga Pola Tidur Sehat Selama Ramadan
Sebaliknya, cahaya muncul, menghilang, menyebar, lalu meredup secara bersamaan di berbagai wilayah. Bahkan, beberapa daerah mengalami perubahan berulang—terang lalu gelap kembali—seperti ritme yang tidak pernah benar-benar stabil.
Hal ini menegaskan bahwa sisi malam Bumi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berubah mengikuti dinamika kehidupan manusia.
Di wilayah dengan pertumbuhan pesat, peningkatan cahaya terlihat jelas. Negara seperti China dan India menunjukkan peningkatan signifikan seiring pembangunan kota, jalan, dan akses listrik.
Cahaya malam menjadi indikator penting: ia menandakan aktivitas ekonomi, pertumbuhan populasi, dan perkembangan infrastruktur. Bahkan, perubahan kecil seperti hadirnya listrik di sebuah desa bisa langsung terlihat dari luar angkasa.
Namun, tidak semua kegelapan berarti kemunduran.
Di beberapa negara seperti Prancis, pengurangan cahaya malam justru disengaja. Banyak kota mematikan lampu setelah tengah malam untuk menghemat energi dan mengurangi polusi cahaya.
Sebaliknya, di wilayah lain, kegelapan bisa menjadi tanda masalah. Di Venezuela, misalnya, penurunan cahaya malam dikaitkan dengan krisis infrastruktur dan pasokan listrik.
Peristiwa besar juga bisa mengubah peta cahaya secara drastis. Invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan penurunan cahaya yang signifikan, terlihat jelas dari data satelit.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, studi ini menggunakan data harian beresolusi tinggi. Hal ini memungkinkan ilmuwan melihat perubahan secara real-time, bahkan untuk peristiwa jangka pendek.
Selama pandemi COVID-19, misalnya, banyak kota di dunia tampak meredup. Aktivitas menurun, jalanan sepi, dan cahaya malam ikut mencerminkan kondisi tersebut.
Menurut Christopher Kyba, pendekatan ini memberikan gambaran yang jauh lebih detail dibandingkan analisis jangka panjang sebelumnya.
Penelitian ini menyimpulkan satu hal penting: cahaya malam di Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Ia terus berubah—kadang perlahan, kadang drastis—mengikuti perkembangan, krisis, dan keputusan manusia.
Peta malam Bumi kini terlihat seperti organisme hidup: bereaksi, beradaptasi, dan mencerminkan aktivitas manusia secara langsung.
Cahaya malam bukan hanya soal penerangan. Ia berkaitan erat dengan konsumsi energi, dampak lingkungan, hingga kesehatan ekosistem.
Polusi cahaya dapat mengganggu kehidupan hewan dan keseimbangan alam. Karena itu, memahami pola ini menjadi penting bagi perencanaan energi dan kebijakan lingkungan di masa depan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini juga mendorong pengembangan studi lanjutan, termasuk rencana misi dari European Space Agency untuk memantau perubahan ini dengan lebih detail. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Cahaya Bumi Malam Hari Malam Bumi
























