Ilustrasi - Bilal bin Rabah mengumandangkan azan
Jakarta, Jurnas.com - Azan merupakan seruan suci yang menandai masuknya waktu salat sekaligus menjadi simbol syiar kebesaran Allah SWT di muka bumi.
Ketika lantunan suara muadzin terdengar, setiap Muslim dianjurkan untuk menghentikan sejenak aktivitasnya dan mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Hal ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan wujud penghormatan seorang hamba terhadap panggilan langsung dari Sang Pencipta.
Dalam ajaran Islam, terdapat anjuran kuat untuk menjawab setiap kalimat azan. Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Muslim:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ... ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya: “Apabila muadzin mengucapkan ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’, lalu salah seorang di antara kalian menjawab seperti itu... kemudian ia mengucapkannya dengan tulus dari hatinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjawab azan bukan hanya amalan ringan, tetapi juga memiliki keutamaan besar sebagai jalan menuju surga.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menirukan setiap lafaz yang diucapkan muadzin dengan penuh keyakinan.
Namun, terdapat pengecualian pada bagian tertentu dalam azan, yaitu saat muadzin mengucapkan Hayya ‘alash shalah dan Hayya ‘alal falah. Pada bagian ini, kita disunnahkan untuk menjawab dengan kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Ucapan ini mencerminkan pengakuan seorang hamba bahwa segala kemampuan untuk memenuhi panggilan salat semata-mata berasal dari pertolongan Allah SWT.
Khusus pada azan Subuh, terdapat tambahan kalimat yang berbunyi:
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Artinya: “Salat itu lebih baik daripada tidur.”
Saat mendengar kalimat tersebut, umat Islam dianjurkan untuk menjawab:
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ
Artinya: “Engkau benar dan telah berkata dengan baik.”
Jawaban ini menjadi bentuk pembenaran bahwa ibadah salat memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kenikmatan tidur, sekaligus menjadi motivasi spiritual untuk bangun dan menunaikan salat Subuh.
Setelah azan selesai dikumandangkan, umat Islam dianjurkan untuk membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW serta melanjutkannya dengan doa setelah azan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا...
Artinya: “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, kemudian berselawatlah kepadaku. Sesungguhnya siapa yang berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali...” (HR. Muslim)
Adapun doa setelah azan yang dianjurkan adalah:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
Artinya: “Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan salat yang akan didirikan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.”
Dalam hadis lain disebutkan:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ... حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barang siapa yang membaca doa tersebut ketika mendengar azan, maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Menjawab Azan Rasulullah SAW Suara Muadzin





















