Jum'at, 10/04/2026 12:33 WIB

Gelombang Panas-Kekeringan Ekstrem Diprediksi Naik, Miliaran Orang Terancam





Fenomena gelombang panas dan kekeringan ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi secara bersamaan di berbagai belahan dunia

Illustrasi, Lahan pertanian kekeringan akibat perubahan iklim (jurnas/Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena gelombang panas dan kekeringan ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi secara bersamaan di berbagai belahan dunia.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters memperingatkan bahwa kombinasi keduanya dapat memperburuk dampak krisis iklim secara signifikan.

Para peneliti menjelaskan bahwa panas ekstrem dan kekeringan tidak hanya terjadi bersamaan, tetapi juga saling memperkuat. Tanah yang kering memicu suhu udara meningkat, sementara panas tinggi mempercepat hilangnya kelembapan, menciptakan siklus berbahaya yang sulit diputus.

Dikutip dair Earth, akibatnya, dampak yang muncul tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berlapis. Mulai dari gagal panen, krisis air, kebakaran hutan, hingga kondisi kerja berbahaya dapat terjadi secara bersamaan dalam satu periode.

Peneliti utama Di Cai dari Ocean University of China menyebut fenomena ini sebagai ancaman nyata bagi kehidupan sehari-hari. “Dalam kondisi panas dan kering ekstrem, akan terjadi pembatasan air dan harga pangan yang tidak stabil, serta berbahaya bagi pekerja luar ruangan,” ujarnya.

Studi tersebut menemukan bahwa frekuensi kejadian panas-kering ekstrem telah meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir. Dalam periode 2001–2020, rata-rata terjadi sekitar empat kejadian per tahun secara global, atau dua kali lipat dibandingkan era pra-industri.

Namun demikian, proyeksi ke depan menunjukkan kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan. Berdasarkan berbagai model iklim dan skenario pemanasan global, sekitar 28 persen populasi dunia atau sekitar 2,6 miliar orang berpotensi terpapar kondisi ekstrem ini pada akhir abad ke-21.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan proyeksi dekade 2030-an yang berada di kisaran 6,6 persen. Klimatolog Monica Ionita dari Alfred Wegener Institute menyebut lonjakan ini sebagai peringatan serius bagi dunia.

“Ketika hampir 30 persen populasi dunia terdampak, ini menjadi sangat kritis dan harus membuat kita berpikir lebih dalam tentang tindakan kita ke depan,” katanya.

Selain semakin sering terjadi, durasi kejadian ekstrem ini juga diperkirakan akan lebih lama. Peneliti memperkirakan peristiwa panas dan kering bisa terjadi hingga 10 kali per tahun dengan durasi mencapai 15 hari, meningkat tajam dibandingkan kondisi saat ini.

Lebih jauh, studi ini menegaskan bahwa tren peningkatan tersebut bukan sekadar variasi alami iklim. Analisis menunjukkan bahwa tanpa emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, peningkatan signifikan ini tidak akan terjadi.

Yang menjadi sorotan, negara-negara berpenghasilan rendah di wilayah tropis diprediksi akan menjadi pihak paling terdampak. Negara-negara ini umumnya memiliki keterbatasan dalam infrastruktur, akses pendingin udara, hingga sistem ketahanan pangan dan air.

“Untuk negara berpenghasilan rendah, ini adalah ketidakadilan besar,” kata Cai. Ia menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya soal iklim, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat.

Meski demikian, penelitian ini menegaskan bahwa risiko tersebut masih bisa ditekan. Jika negara-negara memperkuat komitmen terhadap Perjanjian Paris, jumlah populasi terdampak dapat ditekan dari 28 persen menjadi sekitar 18 persen pada akhir abad ini.

Peneliti menekankan bahwa keputusan yang diambil saat ini akan menentukan masa depan miliaran manusia. “Pilihan yang kita buat hari ini akan langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari miliaran orang di masa depan,” ujar Cai.

Dengan kata lain, tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, kombinasi gelombang panas dan kekeringan ekstrem berpotensi menjadi kondisi baru yang harus dihadapi dunia, terutama oleh negara-negara yang paling rentan namun paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim. (*)

 
 
KEYWORD :

Gelombang Panas Kekeringan Ekstrem Krisis Iklim




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :