Jum'at, 10/04/2026 11:04 WIB

Jepang Siap Lepas Cadangan Minyak Tambahan untuk 20 Hari





Jepang berencana melepas cadangan minyak tambahan yang cukup untuk kebutuhan 20 hari, paling cepat mulai awal Mei.

Ilustrasi cadangan minyak Jepang (Foto: AFP)

Tokyo, Jurnas.com - Jepang berencana melepas cadangan minyak tambahan yang cukup untuk kebutuhan 20 hari, paling cepat mulai awal Mei. Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Kamis (9/4), di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz meski kesepakatan gencatan senjata AS-Iran telah tercapai.

Dikutip dari Kyodo News pada Jumat (10/4), rencana ini dibahas dalam pertemuan tingkat menteri khusus untuk mengkaji situasi di Timur Tengah.

Pelepasan cadangan tambahan tersebut akan menyusul langkah yang sedang berjalan, yakni pelepasan minyak setara kebutuhan sekitar 50 hari ke pasar yang telah dimulai sejak pertengahan Maret dari cadangan milik negara, sektor swasta, maupun negara-negara Teluk penghasil minyak.

Dalam pertemuan yang sebagian terbuka untuk media itu, Takaichi menegaskan komitmen pemerintahnya menghadapi potensi gangguan pasokan berkepanjangan.

"Kami akan mengambil setiap langkah yang mungkin untuk memastikan pasokan minyak mentah yang stabil," ujar Takaichi.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Jepang menggantungkan lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya dari kawasan Timur Tengah, yang sebagian besar disalurkan melalui Selat Hormuz jalur energi global yang praktis terhenti sejak Iran memblokir akses menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Teheran pada akhir Februari lalu.

Situasi sempat memanas hingga Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua pekan pada 7 April, tepat sebelum tenggat waktu yang ditetapkan sepihak oleh Presiden AS Donald Trump berakhir. Trump sebelumnya mengultimatum Iran untuk membuka kembali selat itu atau menghadapi penghancuran infrastruktur vitalnya.

Penutupan Selat Hormuz memukul pasar energi global secara luas. Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyebut krisis pengiriman di Selat Hormuz sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Kekurangan pasokan minyak mentah diperkirakan mencapai sekitar 12 juta barel per hari, sementara harga gas alam cair (LNG) di Asia melonjak hingga 143 persen akibat terhentinya ekspor LNG Qatar.

Dampaknya melampaui sektor energi. Selain minyak dan gas, krisis ini turut mengguncang rantai pasokan komoditas non-energi seperti metanol, aluminium, sulfur, dan grafit sebagai bahan baku penting bagi industri manufaktur global hingga transisi energi hijau.

Kenaikan biaya energi, pupuk, dan transportasi termasuk tarif pengiriman, harga bahan bakar kapal, dan premi asuransi berpotensi mendorong lonjakan harga pangan dan memperparah tekanan biaya hidup, terutama bagi negara-negara berkembang yang paling rentan.

KEYWORD :

Cadangan Minyak Jepang PM Jepang Sanae Takaichi Blokade Selat Hormuz




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :