Rabu, 08/04/2026 18:34 WIB

Sosok Sa`ad bin Abi Waqqas, Sang Penakluk Persia





Nama Saad bin Abi Waqqas tidak bisa dilepaskan dari sejarah besar perluasan pengaruh Islam di jazirah Arab hingga Persia.

Ilustrasi Sa`ad bin Abi Waqqas (Foto: Arina)

Jakarta, Jurnas.com - A.

Lahir dari klan Bani Zuhrah di Mekkah, ia merupakan sepupu dari ibu Nabi Muhammad SAW, Aminah binti Wahab.

Hubungan kekerabatan ini menempatkan Saad dalam posisi yang sangat dekat dengan lingkaran utama kenabian, menjadikannya salah satu pemuda pertama yang menyambut dakwah Islam saat usianya baru menginjak 17 tahun.

Kehidupan awal Saad dipenuhi dengan ujian kesetiaan yang luar biasa. Salah satu fragmen hidupnya yang paling masyhur adalah ketika ibunya melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas keputusan Saad memeluk Islam.

Di tengah tekanan batin yang hebat, Saad menunjukkan keteguhan prinsip tanpa kehilangan adab kepada orang tuanya.

Ia dengan lembut namun tegas menyatakan bahwa meskipun ia sangat mencintai ibunya, kecintaannya kepada keyakinan baru ini jauh melampaui segalanya.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi latar belakang turunnya ayat Al-Qur`an mengenai kewajiban berbakti kepada orang tua namun tetap teguh dalam akidah.

Dalam lintasan biografinya, Ia tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama yang melepaskan anak panah dalam membela panji Islam.

Kecakapannya ini bukan sekadar ketangkasan fisik, melainkan hasil dari latihan disiplin tinggi sejak masa remaja.

Nabi Muhammad SAW bahkan secara khusus pernah memberikan penghormatan dengan mempersilakan Saad menggunakan anak panahnya sendiri dalam sebuah pertempuran, sebuah restu yang jarang diberikan kepada sahabat lain.

Kisah hidupnya mencapai titik balik paling fenomenal saat ia ditunjuk memimpin ekspansi ke Timur. Meski dikenal sebagai sosok yang berani di medan tempur, Saad adalah pribadi yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Kepemimpinannya dalam penaklukan Persia bukan didasari oleh ambisi kekuasaan, melainkan tugas tanggung jawab. Keteguhan mentalnya diuji saat ia harus memimpin ribuan pasukan dalam kondisi sakit parah yang membuatnya tidak bisa duduk di atas pelana kuda.

Dari balik tenda komandonya, ia tetap mampu mengendalikan ritme peperangan dengan akurasi strategi yang mengejutkan banyak pihak.

Di balik sosoknya yang perkasa di medan perang, Saad dikenal sebagai pria yang sangat pemurah dan memiliki kedalaman spiritual. Ia adalah figur yang sangat menghindari konflik internal antarumat pasca-wafatnya para khalifah awal.

Di masa-masa penuh fitnah politik, Saad memilih untuk menarik diri dari hiruk-pikuk kekuasaan dan menghabiskan masa tuanya dalam ketenangan di wilayah Aqiq, Madinah.

Hingga saat-saat terakhirnya pada tahun 55 Hijriah atau sekitar 674 Masehi, Saad bin Abi Waqqas meminta dikafani dengan jubah wol tua yang ia kenakan saat memenangkan Pertempuran Badr, sebuah simbol bahwa baginya, puncak kemuliaan hidup bukanlah kemenangan atas Persia, melainkan kesetiaan pada perjuangan awal yang ia rintis bersama Nabi.

KEYWORD :

Sa`ad bin Abi Waqqas Persia Kuno Kisah Nabi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :