Rabu, 08/04/2026 14:44 WIB

Kota Legendaris yang Hilang Ditemukan, Ungkap Jejak Perdagangan Kuno Irak





 Kota pelabuhan kuno yang didirikan oleh Alexander the Great ini kini teridentifikasi di wilayah Irak selatan, tepatnya di situs Jebel Khayyaber

Kota pelabuhan kuno yang didirikan oleh Alexander the Great ini kini teridentifikasi di wilayah Irak selatan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Penemuan besar kembali mengguncang dunia arkeologi setelah para ilmuwan memastikan lokasi kota legendaris “Alexandria on the Tigris” yang selama ini hilang dari catatan sejarah. Kota pelabuhan kuno yang didirikan oleh Alexander the Great ini kini teridentifikasi di wilayah Irak selatan, tepatnya di situs Jebel Khayyaber.

Konfirmasi ini menjadi tonggak penting karena mengembalikan salah satu pusat perdagangan kuno yang selama ini hanya dikenal melalui teks sejarah. Dengan demikian, pemahaman tentang jalur distribusi barang di kawasan Mesopotamia kini mengalami perubahan signifikan.

Penelitian dipimpin oleh Stefan Hauser dari University of Konstanz yang mencocokkan struktur dinding kota dengan pola jalan yang terkubur di bawah tanah.

Dikutip dari Earth, setelah bertahun-tahun terhambat konflik, tim arkeolog akhirnya kembali melakukan penelitian lapangan dan menemukan kecocokan antara dugaan lama dan bukti fisik di lokasi.

Dari citra udara, reruntuhan kota tampak membentuk benteng besar dengan dinding setinggi sekitar 8 meter.

Penelitian lanjutan menggunakan drone dan pemetaan permukaan menunjukkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar reruntuhan acak, melainkan kota terencana dengan jaringan jalan dan permukiman yang masih terbaca di bawah tanah.

Teknologi pemindaian magnetik juga memainkan peran penting dalam mengungkap struktur tersembunyi kota. Dengan alat magnetometer, para peneliti berhasil memetakan dinding, jalur, hingga area industri tanpa harus menggali secara luas, sehingga memperlihatkan tata kota yang rapi dan terstruktur.

Penemuan ini menunjukkan bahwa kota tersebut tidak berkembang secara acak, melainkan dibangun dengan perencanaan matang. Bahkan, ditemukan indikasi bahwa kota mengalami beberapa fase pembangunan ulang dengan fungsi berbeda, mulai dari kawasan permukiman, pusat keagamaan, hingga area industri dan pelabuhan.

Secara historis, Alexandria on the Tigris didirikan sekitar tahun 324 SM di pertemuan Sungai Tigris dan Karun. Lokasi ini menjadikannya titik strategis bagi perdagangan, karena kapal dari Teluk Persia dapat terhubung langsung dengan jalur sungai menuju pedalaman.

Selama lebih dari lima abad, kota ini menjadi pusat distribusi berbagai komoditas penting seperti rempah-rempah, kayu eksotis, batu mulia, tekstil, hingga sutra. Barang-barang tersebut tidak hanya dikirim ke pasar Romawi, tetapi juga memenuhi kebutuhan kota-kota besar di kawasan seperti Seleucia dan Ctesiphon.

Namun kejayaan kota ini tidak berlangsung selamanya. Perubahan lingkungan menjadi faktor utama kemundurannya, ketika endapan lumpur mendorong garis pantai menjauh dan aliran Sungai Tigris bergeser. Akibatnya, akses kapal ke pelabuhan menjadi semakin sulit hingga akhirnya kota ditinggalkan sekitar abad ke-3 Masehi.

Penemuan ini juga mengoreksi pandangan lama tentang perdagangan kuno yang selama ini dianggap hanya didominasi oleh hubungan antara Romawi dan China.

Alexandria on the Tigris justru menunjukkan bahwa wilayah Mesopotamia memiliki peran aktif sebagai pusat pasar, kekuatan politik, sekaligus pengelola distribusi barang.

“Begitu struktur tembok dan tata ruang bagian dalamnya cocok, kota itu tidak lagi menjadi teka-teki dalam literatur, melainkan menjadi tempat nyata secara fisik,” ungkap tim peneliti, menegaskan bahwa kota ini kini bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas sejarah yang dapat dibuktikan.

Meski demikian, penelitian masih terus berlanjut untuk menggali lebih dalam kehidupan masyarakat di kota tersebut. Para arkeolog berharap penggalian lanjutan dapat mengungkap bagaimana warga hidup, bekerja, dan beradaptasi sebelum akhirnya meninggalkan kota akibat perubahan alam.

Kini, Alexandria on the Tigris kembali hadir sebagai bagian penting dari peta sejarah dunia, bukan hanya sebagai kota yang ditemukan kembali, tetapi juga sebagai bukti bagaimana peradaban kuno membangun jaringan perdagangan yang kompleks dan terhubung secara global. (*)

KEYWORD :

Kota Legendaris Kota yang Hilang Perdagangan Kuno Kawasan Mesopotamia Alexandria on the Tigris




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :