Rabu, 08/04/2026 14:02 WIB

Studi Terbaru: Screen Time Bisa Perparah Masalah Sosial dan Emosional Anak





Penelitian ini menunjukkan, screen time tanpa pendampingan dapat memperburuk kemampuan sosial dan emosional anak, terutama bagi yang miliki kesulitan bahasa

Ilustrasi screen time, menatap smartphone (Foto: Cottonbro studio/pexels)

Jakarta, Jurnas.com - Penggunaan gawai pada anak usia dini kembali menjadi sorotan setelah studi terbaru menemukan dampak yang lebih kompleks dari sekadar durasi waktu yang dihabiskan untuk menatap layar perangkat elektronik seperti smartphone.

Penelitian ini menunjukkan bahwa screen time tanpa pendampingan dapat memperburuk kemampuan sosial dan emosional anak, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kesulitan bahasa sejak awal.

Riset yang dilakukan oleh Florida Atlantic University bersama Aarhus University mengungkap bahwa masalah komunikasi pada anak tidak hanya berdampak pada kemampuan berbicara, tetapi juga memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Dikutip dari Earth, anak yang kesulitan mengekspresikan diri cenderung lebih mudah frustrasi, menarik diri, dan mengalami hambatan dalam membangun relasi pertemanan.

Penelitian ini secara khusus menyoroti peran screen time yang dilakukan secara mandiri tanpa pendampingan orang dewasa. Para peneliti menemukan bahwa kondisi ini dapat memperkuat hubungan antara keterlambatan bahasa dengan munculnya masalah perilaku dan emosional di kemudian hari.

Studi tersebut melibatkan 546 anak usia 4 hingga 5 tahun di Denmark yang diamati selama enam bulan. Guru menilai perkembangan emosional dan perilaku anak, sementara orang tua melaporkan durasi penggunaan layar secara mandiri, seperti menonton televisi atau menggunakan perangkat tanpa interaksi dengan orang lain.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan kemampuan bahasa yang lemah lebih berisiko mengalami kesulitan penyesuaian diri. Risiko ini meningkat signifikan pada anak yang juga memiliki kebiasaan screen time sendiri, bahkan dalam durasi relatif singkat sekitar 10 hingga 30 menit per hari.

Screen time tanpa pengawasan menutup peluang interaksi sosial yang sebenarnya dapat mengurangi risiko masalah perilaku yang muncul akibat kesulitan bahasa,” ujar peneliti senior Brett Laursen. Pernyataan ini menegaskan bahwa screen time tanpa interaksi justru menggantikan kesempatan anak untuk belajar keterampilan sosial secara langsung.

Peneliti juga menekankan bahwa layar tidak mampu menggantikan interaksi nyata yang dibutuhkan anak untuk berkembang. Dalam kehidupan sehari-hari, anak belajar berbicara, memahami emosi, dan menyelesaikan konflik melalui komunikasi langsung dengan orang tua maupun teman sebaya.

“Anak-anak dengan keterbatasan bahasa sudah memiliki risiko terhadap tantangan sosial dan emosional,” kata penulis utama Molly Selover. Ia menambahkan bahwa tidak ada alasan kuat untuk menganggap layar dapat membantu mengatasi masalah tersebut, bahkan sebaliknya berpotensi memperburuk kondisi.

Dalam konteks global, penggunaan layar berlebihan pada anak usia dini memang menjadi tren yang mengkhawatirkan. World Health Organization merekomendasikan durasi maksimal satu jam per hari untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, namun berbagai studi menunjukkan banyak keluarga melampaui batas tersebut.

Meski demikian, penelitian ini tidak serta-merta menyimpulkan bahwa semua penggunaan layar berdampak buruk. Yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana layar digunakan, terutama ketika menggantikan interaksi sosial yang penting bagi perkembangan anak.

Para peneliti menyarankan agar orang tua lebih aktif terlibat dalam penggunaan media digital anak, seperti menonton bersama dan berdiskusi, serta memastikan anak tetap memiliki waktu cukup untuk bermain dan berinteraksi langsung.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa dalam masa perkembangan awal, kualitas interaksi jauh lebih penting dibanding sekadar hiburan digital. Bagi anak dengan tantangan bahasa, setiap momen komunikasi nyata adalah kunci untuk membangun kemampuan sosial yang lebih kuat. (*)

KEYWORD :

Screen Time Penggunaan Gawai Sosial Anak Emosional Anak Kesulitan Berinteraksi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :