Perayaan Paskah Nasional GAMKI dan Dies Natalis ke-62. (Foto: Dok. Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Paskah menjadi puncak perayaan iman Kristiani yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus setelah wafat di kayu salib. Di balik perayaan tersebut diyakini terdapat akar sejarah panjang yang bermula jauh sebelum tradisi gereja modern terbentuk.
Mengutip laman Sabda Paskah, sejarah Paskah tidak berdiri sendiri, melainkan berakar dari tradisi jauh lebih tua, yakni perayaan Paskah dalam Perjanjian Lama.
Dalam tradisi Yahudi, Paskah atau Pesakh merupakan peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, yang ditandai dengan ritual roti tidak beragi dan korban anak domba. Peristiwa ini kemudian dipahami sebagai simbol keselamatan yang kelak digenapi dalam diri Yesus Kristus.
Seiring waktu, makna Paskah mengalami perkembangan dalam Perjanjian Baru. Kebangkitan Kristus dipahami sebagai bentuk pembebasan baru dari dosa dan kematian. Dalam konteks ini, Yesus disebut sebagai “Anak Domba Paskah” yang menjadi pusat iman dan harapan umat Kristen.
Perayaan ini sudah dikenal sejak abad ke-2 sebagai perayaan terpenting dalam tradisi Kristen. Keempat Injil mencatat peristiwa kebangkitan sebagai kejadian historis yang terjadi dalam ruang dan waktu, yang kemudian dirayakan secara konsisten oleh gereja mula-mula, terutama setiap hari Minggu sebagai “Hari Tuhan”, demikian dikutip Sabda Paskah.
Namun, penetapan tanggal Paskah tidak selalu sederhana. Pada awalnya, komunitas Kristen memiliki perbedaan pandangan mengenai waktu perayaan.
Baru pada tahun 325, melalui Konsili Nicea, disepakati bahwa Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama yang jatuh pada atau setelah 21 Maret. Ketentuan ini membuat tanggal Paskah selalu berubah setiap tahun, berkisar antara akhir Maret hingga April.
Dalam praktiknya, Paskah tidak hanya dirayakan dalam satu hari, tetapi melalui rangkaian panjang yang dimulai sejak masa Prapaskah. Masa ini diawali dengan Rabu Abu, yang ditandai dengan simbol abu sebagai pengingat akan kerapuhan manusia dan panggilan untuk bertobat.
Berbagai simbol kemudian hadir memperkaya makna Paskah. Lilin Paskah melambangkan terang kebangkitan, kain putih menjadi simbol kemenangan atas kematian, sementara telur Paskah dimaknai sebagai tanda kehidupan baru.
Simbol-simbol tersebut tidak sekadar tradisi, tetapi sarat makna teologis yang mengajak umat untuk memahami esensi kebangkitan secara lebih mendalam.
Diketahui, tahun ini, Paskah dirayakan pada Minggu, 5 April 2026. Perayaan atau peringatan ini kembali menjadi puncak refleksi iman tentang kebangkitan, harapan, dan pembaruan hidup.
Di berbagai komunitas gereja, Paskah juga berkembang menjadi momentum aksi nyata. Umat tidak hanya diajak memperbaiki relasi dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama dan lingkungan, melalui kegiatan seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga kampanye menjaga air dan udara bersih.
Dengan demikian, Paskah bukan sekadar perayaan liturgi, melainkan perjalanan iman yang utuh. Dari sejarah pembebasan dalam tradisi Yahudi hingga makna kebangkitan dalam Kekristenan, Paskah diyakini sebagai simbol harapan, pertobatan, dan kehidupan baru yang relevan sepanjang zaman. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Paskah Sejarah Paskah Perayaan Paskah Kebangkitan Yesus Kristus

























