Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa astronaut kemungkinan akan menghadapi kesulitan serius untuk bereproduksi di luar angkasa akibat kondisi mikrogravitasi (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa astronaut kemungkinan akan menghadapi kesulitan serius untuk bereproduksi di luar angkasa. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan kolonisasi manusia di Bulan maupun Mars.
Melansir Live Science, penelitian tersebut menemukan bahwa kondisi mikrogravitasi yang disimulasikan di Bumi dapat menghambat pergerakan sel sperma, proses pembuahan, hingga perkembangan embrio.
“Ketika berbicara tentang pembuahan yang berhasil, nol gravitasi berarti nol peluang,” demikian gambaran hasil studi tersebut.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications Biology, para ilmuwan mengamati sel manusia, tikus, dan babi. Hasilnya, sperma menjadi tidak terarah, tingkat pembuahan pada sel telur tikus menurun, dan embrio babi mengalami keterlambatan perkembangan. Semuanya akibat mikrogravitasi.
Temuan ini memiliki implikasi besar bagi upaya membangun kehadiran manusia secara permanen di luar Bumi. Rencana pemukiman jangka panjang di Bulan dan Mars tidak hanya bergantung pada kemampuan bertahan hidup, tetapi juga apakah manusia dapat bereproduksi di sana.
Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa mikrogravitasi dapat mengganggu produksi estrogen dan menurunkan jumlah sperma pada tikus. Namun, apa yang terjadi di tingkat sel saat sperma dan sel telur berada dalam kondisi hampir tanpa gravitasi masih belum jelas.
Untuk mensimulasikan kondisi tersebut, peneliti menggunakan alat bernama clinostat.
“Dengan memutar sel atau sampel secara terus-menerus ke berbagai arah, sehingga arah gaya gravitasi menjadi acak dengan sangat cepat dan membuat sel tidak sempat menetap maupun menentukan orientasinya,” kata Nicole McPherson, peneliti sekaligus penulis senior studi ini.
“Dari perspektif sel, tidak ada arah ‘atas’ atau ‘bawah’ yang tetap; sel seolah mengalami jatuh bebas secara terus-menerus, yang sangat mirip dengan kondisi yang dialami sel hidup dalam lingkungan tanpa bobot di luar angkasa,” sambungnya.
Dengan simulasi tersebut, sperma manusia dan tikus dimasukkan ke dalam labirin kecil yang meniru saluran reproduksi perempuan. Hasilnya, jauh lebih sedikit sperma yang berhasil mencapai tujuan dibandingkan dengan kondisi gravitasi normal di Bumi.
“Banyak protein pada sperma bertindak sebagai mekanosensor, yaitu perangkat molekuler kecil yang mampu mendeteksi gaya fisik,” ujar McPherson.
“Ketika gaya gravitasi dihilangkan, sangat logis jika sensor-sensor tersebut menjadi tidak berfungsi optimal, sehingga kemampuan sperma untuk berorientasi dan bergerak menuju tujuan menjadi terganggu.”
Dalam kondisi normal, saluran reproduksi perempuan melepaskan hormon progesteron setelah ovulasi untuk membantu mengarahkan sperma ke sel telur. Para peneliti mencoba menambahkan hormon ini dalam simulasi mikrogravitasi.
“Cara tersebut memang memberikan efek, namun konsentrasi yang diperlukan jauh lebih tinggi dibandingkan kadar alami dalam saluran reproduksi perempuan,” ujar McPherson.
Meski secara teori dosis tinggi progesteron bisa digunakan, ia menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya bagi manusia di luar angkasa.
Peneliti kemudian mengamati proses pembuahan dan perkembangan embrio pada tikus dan babi. Hasilnya, tingkat pembuahan menurun sekitar 30% pada tikus dan sekitar 15% pada babi dalam kondisi mikrogravitasi.
Enam hari setelah pembuahan, embrio babi juga menunjukkan tanda-tanda keterlambatan perkembangan.
“Setelah pembuahan, embrio harus menempel pada dinding rahim,” kata McPherson.
“Selanjutnya, sel-sel embrio perlu tersusun dengan benar agar dapat membentuk seluruh organ tubuh, dengan bantuan plasenta yang harus berfungsi optimal selama kehamilan. Mikrogravitasi dapat mengganggu sebagian atau seluruh proses tersebut.”
Meskipun hasil ini menunjukkan tantangan besar bagi kolonisasi luar angkasa, studi ini juga membuka pemahaman baru tentang peran gravitasi dalam kehidupan.
“Sejak saat sperma memulai perjalanannya hingga embrio mulai berkembang, gravitasi tampaknya memainkan peran yang baru mulai kita pahami. Gravitasi bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan tertanam secara mendalam dalam proses biologis yang menciptakannya,” kata McPherson.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kondisi Mikrogravitasi Reproduksi Astronaut Luar Angkasa Kolonisasi Luar Bumi



























