Kamis, 26/03/2026 01:38 WIB

Perang Iran Picu Lonjakan Emisi, Lepaskan 5,6 Juta Ton CO2 dalam 2 Pekan





Dampak perang tak hanya terlihat dari kehancuran fisik dan krisis kemanusiaan, tetapi juga dari lonjakan emisi karbon yang mempercepat krisis iklim global

Ilustrasi perang (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Dampak perang tak hanya terlihat dari kehancuran fisik dan krisis kemanusiaan, tetapi juga dari lonjakan emisi karbon yang mempercepat krisis iklim global.

Analisis terbaru dari Climate and Community Institute mengungkap bahwa dua pekan awal konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar.

Dalam periode 28 Februari hingga 14 Maret 2026, konflik tersebut menghasilkan sekitar 5,6 juta ton emisi CO₂ dan gas rumah kaca lainnya. Jumlah ini bahkan melampaui total emisi tahunan puluhan negara kecil, menunjukkan skala dampak lingkungan yang sering luput dari perhatian.

Penelitian ini menyoroti bahwa sumber emisi terbesar justru berasal dari kehancuran bangunan sipil. Runtuhnya rumah, sekolah, dan fasilitas umum menghasilkan sekitar 2,7 juta ton CO₂, terutama dari proses pembersihan puing dan rekonstruksi pascaperang.

Data dari Iran Red Crescent Society mencatat lebih dari 16 ribu bangunan tempat tinggal, ribuan unit komersial, serta puluhan fasilitas kesehatan dan sekolah hancur dalam dua pekan pertama. Skala kerusakan ini memperbesar jejak karbon karena kebutuhan pembangunan ulang yang masif.

Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi juga menjadi penyumbang besar emisi. Pemboman terhadap kilang minyak, tangki penyimpanan, dan kapal tanker di kawasan Teluk memicu pelepasan sekitar 2,1 juta ton CO₂ ke atmosfer.

Di sisi lain, aktivitas militer seperti penerbangan jet tempur dan operasi logistik turut menyumbang emisi signifikan. Diperkirakan lebih dari 6.000 target diserang dalam periode tersebut, dengan konsumsi bahan bakar mencapai ratusan juta liter.

Tak berhenti di situ, kehilangan alat utama sistem persenjataan juga berdampak pada emisi jangka panjang. Produksi ulang pesawat, kapal, dan peluncur rudal yang hancur diperkirakan menghasilkan tambahan ratusan ribu ton CO₂.

Penggunaan ribuan rudal dan drone selama konflik juga memperbesar jejak karbon, terutama karena kebutuhan produksi ulang amunisi. Emisi dari sektor ini memang lebih kecil dibandingkan lainnya, namun tetap berkontribusi terhadap akumulasi total.

Para peneliti menilai dampak iklim dari perang ini berpotensi terus meningkat jika konflik berlanjut atau meluas. Selain itu, gangguan pasokan energi global akibat ketegangan di kawasan dapat mendorong negara-negara meningkatkan eksplorasi bahan bakar fosil.

Kondisi ini dikhawatirkan memperpanjang ketergantungan dunia terhadap energi karbon tinggi. Dalam jangka panjang, perang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mempercepat krisis iklim yang dampaknya dirasakan secara global. (*)

Sumber: Live Science

KEYWORD :

Perang Iran Emisi Karbon Krisis Iklim Global




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :