Kapal tanker minyak Iran Adrian Darya 1 (Foto: REUTERS)
Manila, Jurnas.com - Filipina berupaya mendapatkan dispensasi dari Amerika Serikat (AS) untuk membuat pengecualian membeli minyak dari negara-negara yang disanksi oleh Washington.
Hal ini bertujuan mengamankan pasokan dalam negeri lantaran Manila bergantung pada impor bahan bakar, dan telah mendeklarasikan darurat energi nasional pada Selasa (24/3) kemarin akibat konflik di Timur Tengah.
"Kami sedang bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk mendapatkan keringanan atau pengecualian untuk membeli minyak dari negara-negara yang dikenai sanksi AS," kata Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez dikutip dari Reuters pada Rabu (25/3).
Dia menambahkan bahwa saat ini Filipina sedang mempertimbangkan semua opsi, termasuk kemungkinan membeli minyak dari Venezuela dan Iran yang disanksi AS.
"Masih dalam proses," ujar dia terkait tanggapan Departemen Luar Negeri AS atas permintaan tersebut.
Diketahui, per 20 Maret lalu Filipina masih memiliki stok bahan bakar untuk 45 hari ke depan. Negara tetangga Indonesia itu kini sedang membeli 1 juta barel minyak untuk menambah pasokan cadangan.
Presiden Filipina, Marcos Jr. dalam pernyataan resminya juga memastikan bahwa bahan bakar nasional tidak akan habis setelah melewati 45 hari, sebab pemerintah sedang mengupayakan sumber lain.
"Situasi mulai membaik. Kita bisa yakin bahwa setelah 45 hari kita akan mendapatkan aliran minyak," kata Presiden Marcos.
Selama ini Filipina mengimpor hampir seluruh minyak mentah dari Timur Tengah, termasuk Arab Saudi sebagai pemasok terbesar. Karena itu, negara tersebut rentan terhadap guncangan harga.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Filipina Krisis Minyak Filipina Izin AS Konflik Timur Tengah


























