Rabu, 18/03/2026 05:24 WIB

Eropa Kompak Tolak Seruan AS Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz





Negara Eropa secara tegas menyatakan tidak memiliki niat untuk terseret lebih jauh ke dalam eskalasi militer yang kian memanas antara AS-Israel dengan Iran.

Di tengah konflik Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran, beberapa negara Eropa tidak mau ikut campur dengan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Gelombang penolakan datang dari negara-negara besar Eropa terhadap permintaan Amerika Serikat untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut ke Selat Hormuz.

Para pemimpin Benua Biru secara tegas menyatakan tidak memiliki niat untuk terseret lebih jauh ke dalam eskalasi militer yang kian memanas antara AS-Israel dengan Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan posisi blok tersebut usai pertemuan para menteri luar negeri di Brussels pada Senin (16/3).

Ia menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah keamanan maritim yang terukur, bukan perluasan konflik.

"Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini," katanya.

Senada dengan Kallas, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menjelaskan bahwa mandat misi angkatan laut Uni Eropa saat ini memiliki batasan operasional yang jelas.

“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini,” katanya.

“tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz,” tambahnya.

Sikap keras juga ditunjukkan oleh Jerman. Kanselir Friedrich Merz memastikan Berlin tidak akan mengirimkan pasukan ke wilayah Teluk.

Hal ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, yang menekankan hambatan hukum dan parlemen untuk pengerahan pasukan di luar wilayah NATO.

“Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik dan penyelesaian konflik yang cepat," ujarnya.

Penolakan serupa datang dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, serta pemimpin pemerintahan Polandia dan Belgia.

Mereka mengkritik tekanan dari Washington, terutama setelah Presiden Donald Trump mengeklaim adanya dukungan dari banyak negara tanpa menyebutkan identitas mereka secara spesifik.

Krisis di Selat Hormuz sendiri bermula sejak 28 Februari lalu, ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menutup jalur vital tersebut sebagai respons atas serangan AS-Israel.

Terhentinya aliran sekitar 20 juta barel minyak per hari melalui selat ini telah memicu guncangan hebat pada pasar energi global dan lonjakan harga minyak dunia.

KEYWORD :

Negara Eropa Amerika Serikat Selat Hormuz Kapal Perang Donald Trump




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :