Kapal perang AS bersiaga, operasi besar di Selat Hormuz, kepung perairan Iran (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran tak hanya berisiko mengguncang pasar energi global. Di balik sorotan terhadap lonjakan harga minyak, ada ancaman yang berpotensi lebih besar dampaknya: krisis pupuk global yang bisa memicu lonjakan harga pangan dunia.
Para peneliti memperingatkan, jika jalur pelayaran strategis Selat Hormuz terganggu atau bahkan ditutup, dampaknya tidak berhenti pada minyak dan gas. Rantai pasok pertanian global bisa ikut terguncang, dari produksi pupuk hingga hasil panen.
Dikutip dari Live Science, selama ini, Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur tersibuk dunia untuk distribusi minyak dan gas. Namun, perannya jauh lebih luas.
Sekitar sepertiga perdagangan global urea, atau pupuk nitrogen paling umum di dunia, melewati jalur ini. Kawasan Teluk Persia menjadi pusat produksi karena akses gas alam murah, investasi besar dalam industri pupuk di negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Jika jalur ini terganggu, distribusi pupuk dan bahan bakunya akan langsung terdampak.
Pertanian modern sangat bergantung pada pupuk sintetis, khususnya nitrogen. Revolusi ini dimulai sejak awal abad ke-20 melalui proses kimia yang dikembangkan oleh Fritz Haber dan Carl Bosch.
Melalui proses ini, gas alam diubah menjadi amonia. Kemudian, amonia menjadi pupuk seperti urea
Tanpa pupuk nitrogen, produksi pangan global—terutama gandum, jagung, dan padi—akan turun drastis. Bahkan, sejumlah studi menunjukkan populasi dunia saat ini tidak akan bisa dipertahankan tanpa teknologi ini.
Adapun dampak langsungnya ialah terhadap gangguan pasokan dan lonjakan harga. Jika konflik membuat Selat Hormuz tidak bisa dilalui, dampak awalnya meliputi keterlambatan pengiriman pupuk dan LNG, kenaikan biaya logistik dan asuransi, dan potensi terhentinya distribusi secara total
Namun efek yang lebih serius justru muncul beberapa bulan kemudian, khususnya di sektor pertanian. Petani di berbagai belahan dunia menghadapi dilema, di antaranya ialah membeli pupuk dengan harga jauh lebih mahal, mengurangi penggunaan pupuk, dan mengganti jenis tanaman.
Masalahnya, sedikit pengurangan pupuk nitrogen bisa menyebabkan penurunan hasil panen yang tidak proporsional besar. Ini berarti jutaan ton produksi pangan berpotensi hilang.
Negara besar pun tidak kebal. Krisis ini bersifat global karena ketergantungan lintas negara, termasuk India bergantung pada impor LNG dari Teluk untuk produksi urea domestik.
Kemudian, Brasil mengandalkan impor pupuk untuk menjaga produksi kedelai dan jagung. Serta Amerika Serikat tetap mengimpor amonia dan urea untuk menstabilkan harga
Di kawasan Sub-Sahara Afrika, kondisi lebih rentan. Penggunaan pupuk yang sudah rendah berisiko turun lebih jauh, memperburuk krisis pangan.
Dampak krisis pupuk tidak terjadi seketika seperti harga bensin. Namun efeknya jauh lebih luas, yakni produksi pangan menurun, harga pakan ternak naik, biaya produksi biofuel meningkat, dan harga makanan di pasar melonjak.
Secara historis, lonjakan harga pangan sering berkorelasi dengan ketidakstabilan sosial dan ekonomi. Produksi pupuk tidak bisa dengan cepat dipindahkan ke wilayah lain. Membangun pabrik amonia membutuhkan investasi besar, dan waktu bertahun-tahun.
Artinya, jika ekspor dari kawasan Teluk terganggu, dunia tidak punya solusi cepat untuk menutup kekurangan pasokan.
Lebih jauh lagi, unsur penting lain seperti sulfur—produk sampingan industri minyak dan gas—juga akan terdampak. Ini memperparah tekanan terhadap produksi pupuk global.
Berbeda dengan krisis minyak yang dampaknya langsung terasa, krisis pupuk bekerja secara perlahan namun sistemik.
Harga energi mungkin naik hari ini. Namun krisis pangan baru terasa bulan-bulan berikutnya—dan dampaknya bisa lebih dalam.
Jika abad ke-20 ditandai dengan ketakutan terhadap embargo minyak, maka abad ke-21 menghadapi risiko baru: guncangan pupuk global.
Minyak menggerakkan kendaraan. Namun nitrogen, melalui pupuk, menggerakkan produksi pangan dunia.
Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga yang paling mahal mungkin bukan minyak mentah, melainkan biaya untuk memberi makan dunia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Selat Hormuz Perang Iran Krisis Pupuk Lonjakan Harga Pangan



























