Bumi (Foto: Pexels/Pixabay)
Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim selama beberapa dekade terakhir meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya kekeringan besar yang melanda berbagai wilayah dunia secara bersamaan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem iklim Bumi memiliki mekanisme alami yang selama lebih dari satu abad membantu mencegah terjadinya “mega-kekeringan” global yang terjadi secara serempak.
Para peneliti menemukan bahwa pola suhu permukaan laut memainkan peran penting dalam memecah sinkronisasi kekeringan antar benua. Dengan kata lain, ketika satu wilayah mengalami kekeringan parah, wilayah lain sering kali justru berada dalam kondisi yang berbeda karena pengaruh dinamika laut dan atmosfer.
Studi yang dilakukan tim ilmuwan dari Indian Institute of Technology Gandhinagar menganalisis data iklim global dari tahun 1901 hingga 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa kekeringan yang terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah dunia umumnya hanya mencakup sekitar 1,8 hingga 6,5 persen daratan global pada satu waktu.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menyebut hingga seperenam daratan dunia dapat mengalami kekeringan serentak. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem iklim global tidak bergerak secara seragam, melainkan membentuk pola yang berubah-ubah seperti mosaik.
Penelitian tersebut memandang kekeringan sebagai peristiwa yang saling terhubung dalam sebuah jaringan global. Ketika dua wilayah jauh mengalami kekeringan dalam periode waktu yang hampir bersamaan, peristiwa tersebut dianggap sebagai bagian dari pola sinkronisasi iklim.
Melalui pemetaan ribuan hubungan semacam itu, para ilmuwan menemukan bahwa pola suhu laut mampu mengganggu atau memecah penyebaran kekeringan sebelum fenomena tersebut meluas secara seragam di berbagai benua.
Dari analisis tersebut juga muncul sejumlah wilayah yang disebut sebagai “pusat kekeringan global”. Kawasan seperti Australia, Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta sebagian wilayah Amerika Utara tercatat sering menjadi titik awal yang berhubungan dengan kekeringan di wilayah lain.
Keberadaan pusat-pusat ini penting karena dapat menjadi indikator awal bagi potensi gangguan terhadap produksi pangan dunia. Jika kekeringan mulai muncul di kawasan tersebut, dampaknya dapat merambat ke sistem pertanian dan pasar global meskipun tidak berkembang menjadi krisis global secara serempak.
Penelitian juga menunjukkan bahwa bahkan kekeringan dengan tingkat sedang dapat memberikan dampak besar terhadap produksi pangan. Analisis terhadap hasil panen gandum, padi, jagung, dan kedelai memperlihatkan bahwa ketika kekeringan moderat terjadi, risiko gagal panen dapat meningkat hingga lebih dari 25 persen.
Di beberapa wilayah pertanian utama dunia, risiko tersebut bahkan dapat melonjak hingga 40 hingga 50 persen, terutama pada tanaman seperti jagung dan kedelai. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan global tidak selalu berasal dari bencana ekstrem, tetapi juga dari kekeringan yang tampaknya tidak terlalu parah.
Salah satu faktor utama yang memecah sinkronisasi kekeringan global adalah siklus suhu laut yang kompleks. Fenomena iklim seperti El Niño–Southern Oscillation atau ENSO memiliki pengaruh besar terhadap pola curah hujan di berbagai belahan dunia.
Pada fase El Niño, misalnya, Australia sering menjadi salah satu wilayah yang rentan terhadap kekeringan. Sebaliknya, ketika fase La Niña terjadi, pola kekeringan dapat bergeser ke wilayah lain.
Perubahan suhu laut tersebut menciptakan dampak yang berbeda-beda pada curah hujan di setiap kawasan. Akibatnya, kekeringan tidak menyebar secara merata di seluruh dunia, melainkan berpindah-pindah mengikuti dinamika laut dan atmosfer.
Penelitian ini juga menemukan bahwa sekitar dua pertiga perubahan jangka panjang dalam tingkat kekeringan global dipengaruhi oleh perubahan curah hujan. Sementara itu, sepertiga sisanya berkaitan dengan peningkatan suhu udara yang membuat proses penguapan air dari tanah dan tanaman menjadi lebih tinggi.
Artinya, meskipun curah hujan masih menjadi faktor utama, pemanasan global semakin memperkuat tekanan terhadap ekosistem daratan. Kondisi ini terutama terlihat di wilayah lintang menengah seperti Eropa dan sebagian Asia yang mulai mengalami peningkatan tekanan iklim.
Para peneliti menilai bahwa memahami pola kekeringan global sebagai sebuah jaringan dapat membantu meningkatkan sistem peringatan dini. Dengan memantau wilayah-wilayah pusat kekeringan, pemerintah dan pelaku pasar dapat mengantisipasi potensi gangguan pada produksi pangan sebelum dampaknya meluas ke pasar global.
Temuan ini juga menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas pangan dunia. Karena kekeringan tidak terjadi secara bersamaan di semua wilayah, perdagangan global, penyimpanan pangan, serta kebijakan yang fleksibel dapat membantu menyeimbangkan pasokan ketika satu kawasan mengalami penurunan produksi.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini bukan berarti risiko kekeringan menjadi lebih kecil. Sebaliknya, perubahan iklim tetap meningkatkan tekanan terhadap sistem pertanian dan ekosistem, terutama karena suhu yang semakin tinggi membuat tanah dan tanaman kehilangan kelembapan lebih cepat.
Namun setidaknya, sistem laut Bumi sejauh ini masih berperan sebagai penyeimbang alami yang mencegah seluruh planet mengalami kekeringan ekstrem pada waktu yang sama. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara laut, curah hujan, dan suhu global, para pembuat kebijakan memiliki peluang lebih besar untuk merancang strategi menghadapi krisis iklim di masa depan. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Peran Lautan Mega-Kekeringan Global Perubahan Iklim Suhu Permukaan Laut


























