Minggu, 15/03/2026 19:36 WIB

Studi: Kantong Teh Bisa Lepaskan Miliaran Partikel Plastik Saat Diseduh





penelitian terbaru menunjukkan bahwa secangkir teh mungkin tidak hanya mengandung ekstrak daun teh, tetapi juga partikel plastik mikroskopis yang tidak terlihat

Ilustrasi Es Teh (Foto: Pexels/Roman Odintsov)

Jakarta, Jurnas.com - Minum teh adalah kebiasaan harian bagi miliaran orang di seluruh dunia. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa secangkir teh mungkin tidak hanya mengandung ekstrak daun teh, tetapi juga partikel plastik mikroskopis yang tidak terlihat oleh mata.

Temuan tersebut muncul dari kajian ilmiah yang meninjau berbagai penelitian tentang keberadaan Microplastics dan Nanoplastics dalam minuman teh. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Food Chemistry setelah menganalisis 19 penelitian yang meneliti partikel plastik dalam teh, kantong teh, maupun kemasannya.

Dikutip dari Earth, hasil kajian menunjukkan bahwa partikel plastik dapat masuk ke dalam minuman teh melalui berbagai jalur. Sumbernya tidak hanya berasal dari kantong teh, tetapi juga dari kemasan minuman, air yang digunakan dalam proses produksi, hingga peralatan yang bersentuhan dengan minuman tersebut.

Namun di antara berbagai sumber tersebut, kantong teh menjadi salah satu yang paling menonjol. Beberapa jenis kantong teh, terutama yang berbentuk piramida transparan, diketahui menggunakan bahan plastik berbentuk jaring yang dapat melepaskan partikel sangat kecil ketika terkena air panas.

Bahkan pada kantong teh yang terlihat seperti terbuat dari kertas, sebagian produk sebenarnya menggunakan campuran serat tanaman dengan plastik. Dalam beberapa kasus, lapisan plastik seperti Polypropylene digunakan sebagai perekat panas untuk menyegel bagian tepi kantong agar tidak terbuka saat diseduh.

Penelitian menunjukkan bahwa jumlah partikel yang dilepaskan bisa sangat besar. Dalam salah satu eksperimen, satu kantong teh berbahan plastik dilaporkan melepaskan sekitar 14,7 miliar partikel mikroplastik dan nanoplastik ketika diseduh dalam kondisi laboratorium.

Penelitian lain melaporkan angka yang lebih rendah tetapi tetap signifikan, yakni sekitar 1,3 miliar partikel dari satu kantong teh. Perbedaan hasil ini terjadi karena setiap penelitian menggunakan metode pengukuran yang berbeda, termasuk ukuran filter yang digunakan untuk menangkap partikel plastik.

Selain kantong plastik konvensional, beberapa kantong teh yang menggunakan bahan bioplastik seperti Polylactic Acid juga ditemukan dapat melepaskan partikel plastik dalam jumlah tertentu. Meski biasanya lebih sedikit dibandingkan plastik biasa, jumlahnya tetap tidak sepenuhnya nol.

Para peneliti juga menyoroti bahwa mengidentifikasi partikel plastik dalam minuman bukanlah proses yang mudah. Selain harus menyaring partikel berukuran sangat kecil, ilmuwan juga perlu memastikan bahwa partikel tersebut benar-benar plastik dan menentukan jenis polimer penyusunnya.

Proses ini juga rentan terhadap kontaminasi karena partikel plastik dapat berasal dari berbagai sumber lain. Serat pakaian peneliti, debu di udara, air laboratorium, hingga peralatan plastik yang digunakan dalam penelitian dapat memengaruhi hasil pengukuran.

Selain partikel plastik, studi tersebut juga menemukan adanya senyawa kimia yang berkaitan dengan bahan plastik dalam seduhan teh. Zat-zat ini dapat berasal dari aditif yang digunakan dalam proses produksi plastik, termasuk bahan yang memengaruhi warna, fleksibilitas, dan daya tahan material.

Salah satu kelompok senyawa yang terdeteksi adalah senyawa jenis Bisphenol, yang sering digunakan dalam produksi plastik tertentu. Namun para ilmuwan masih meneliti bagaimana senyawa tersebut dapat berpindah dari kantong teh ke dalam minuman.

Meski temuan ini menarik perhatian, para peneliti menekankan bahwa penelitian tersebut tidak menyimpulkan secara langsung bahwa partikel plastik dari kantong teh berbahaya bagi manusia. Studi tersebut juga tidak melibatkan uji klinis pada manusia.

Beberapa eksperimen laboratorium memang menunjukkan bahwa organisme kecil seperti Daphnia dapat menyerap partikel plastik yang dilepaskan dari kantong teh berbahan nylon atau PET. Dalam kondisi paparan tinggi, peneliti menemukan perubahan perilaku dan struktur tubuh pada hewan tersebut.

Penelitian lain menggunakan model sel usus manusia untuk menguji interaksi partikel bioplastik dengan jaringan tubuh. Hasilnya menunjukkan bahwa sel dapat berinteraksi dengan partikel tersebut, tetapi tidak ditemukan kerusakan besar dalam pengujian jangka pendek.

Para ilmuwan menekankan bahwa penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih terus berkembang. Oleh karena itu, temuan tentang partikel plastik dalam teh sebaiknya dilihat sebagai informasi ilmiah yang memerlukan penelitian lanjutan, bukan sebagai alasan untuk menimbulkan kepanikan.

Namun penelitian ini mengingatkan bahwa bahan kemasan, proses produksi, dan metode pengujian ilmiah dapat memengaruhi apa saja yang ikut masuk ke dalam minuman yang kita konsumsi setiap hari. (*)

KEYWORD :

kantong Teh Minuman Teh Partikel Plastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :