Tanaman terlihat di ladang jelai di sebuah peternakan dekat Moree, sebuah kota pedalaman di New South Wales, Australia 27 Oktober 2020. Foto diambil 27 Oktober 2020. REUTERS/Jonathan Barrett/File Foto
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi tak terduga dari dampak pandemi Black Death di Eropa. Alih-alih memulihkan alam ketika populasi manusia menyusut drastis pada abad ke-14, keanekaragaman tanaman justru mengalami penurunan tajam selama lebih dari satu abad setelah pandemi tersebut.
Studi yang dipimpin oleh peneliti Jonathan Gordon dari University of York menemukan bahwa penurunan populasi manusia dan ditinggalkannya lahan pertanian menyebabkan keruntuhan biodiversitas tanaman di banyak wilayah Eropa.
Dilutip dari Earth, untuk menelusuri perubahan ekosistem masa lalu, para peneliti menganalisis lebih dari 100 catatan serbuk sari yang tersimpan di sedimen dan lahan gambut di berbagai wilayah Europe.
Serbuk sari yang terawetkan ini menjadi “arsip alami” yang menunjukkan jenis tanaman apa saja yang pernah tumbuh di lanskap sekitar sebelum dan sesudah pandemi.
Hasilnya menunjukkan perubahan drastis: ketika ladang-ladang ditinggalkan dan praktik pertanian tradisional berhenti, keragaman tanaman langsung merosot. Penurunan itu bertahan sekitar 150 tahun sebelum perlahan pulih seiring kembalinya populasi manusia dan aktivitas bertani.
“Pemulihan baru mulai terlihat ketika populasi manusia kembali meningkat dan kegiatan pertanian dilanjutkan kembali, sebuah proses yang memakan waktu sekitar 300 tahun untuk kembali ke tingkat sebelum wabah,” kata Gordon.
Selama ini, banyak ilmuwan berasumsi bahwa alam akan pulih secara alami ketika manusia meninggalkan suatu wilayah. Namun penelitian ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Ketika aktivitas manusia seperti membajak, menggembalakan ternak, memotong rumput, dan membersihkan semak berhenti, lahan terbuka perlahan berubah menjadi hutan. Kanopi pohon yang semakin rapat menutup cahaya matahari di permukaan tanah, sehingga bunga liar dan tanaman kecil yang biasa tumbuh di area terbuka kehilangan habitatnya.
Akibatnya, mosaik lanskap yang sebelumnya terdiri dari ladang, padang rumput, tepi hutan, dan lahan basah menyusut menjadi kawasan hutan yang lebih homogen.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa selama lebih dari seribu tahun sebelum wabah, keanekaragaman tanaman di Eropa justru meningkat bersamaan dengan meluasnya praktik pertanian.
Pada masa abad pertengahan, sistem pertanian umumnya bersifat campuran: lahan tanaman pangan, padang rumput, hutan kecil, kolam, dan area liar berada berdampingan dalam satu lanskap.
Kombinasi ini menciptakan berbagai kondisi mikro, baik cahaya, kelembapan, dan gangguan tanah, yang memungkinkan banyak spesies tanaman hidup berdampingan.
Dengan kata lain, manusia tidak hanya mengurangi alam, tetapi juga tanpa sadar menciptakan kondisi yang mendukung keragaman spesies.
Pandemi Black Death menewaskan sekitar sepertiga hingga setengah populasi Eropa, tetapi dampaknya tidak merata. Wilayah yang mengalami penurunan populasi paling drastis juga mengalami penurunan biodiversitas tanaman paling tajam.
Sebaliknya, daerah yang tetap mempertahankan aktivitas pertanian tidak mengalami keruntuhan keanekaragaman tanaman dalam skala yang sama.
Hal ini menjelaskan mengapa narasi sederhana tentang “alam yang pulih ketika manusia pergi” tidak selalu berlaku di seluruh Eropa.
Penelitian ini juga menantang konsep rewilding, yaitu pendekatan konservasi yang mengurangi campur tangan manusia agar alam pulih secara alami.
Menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Ecology Letters ini, strategi tersebut tidak selalu berhasil di lanskap yang selama berabad-abad berkembang bersama aktivitas manusia.
Di Eropa, beberapa bentang alam yang kaya biodiversitas justru bergantung pada praktik tradisional seperti penggembalaan ringan, pemotongan rumput, atau pertanian skala kecil.
Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan bahwa pertanian modern yang intensif—dengan monokultur luas, pestisida, dan pupuk kimia—justru merusak biodiversitas karena menyederhanakan lanskap.
Para peneliti menyimpulkan bahwa keanekaragaman tanaman paling tinggi terjadi pada lanskap “mosaik” yang memadukan berbagai penggunaan lahan: ladang, hutan, padang rumput, kolam, dan semak belukar.
“Untuk mempertahankan keragaman hayati yang luas di lanskap Eropa, diperlukan lanskap mosaik di mana tanaman, hutan, padang rumput, kolam, dan danau hidup berdampingan dalam satu lingkungan,” kata Gordon.
Eksperimen alam yang tercipta setelah pandemi Black Death menunjukkan satu pelajaran penting: meninggalkan alam sepenuhnya tidak selalu menghasilkan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.
Bagi konservasi modern, tantangan utamanya adalah menentukan kapan manusia harus mundur dari alam—dan kapan justru kehadiran manusia yang terkelola dengan baik membantu menjaga kehidupan tetap beragam.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Keanekaragaman Tumbuhan Black Death biodiversitas tanaman


























