Sabtu, 14/03/2026 13:31 WIB

Golongan Orang-orang yang Merugi di Bulan Ramadan





Bulan Ramadan merupakan anugerah agung yang dipenuhi dengan limpahan rahmat, ampunan, serta jaminan pembebasan dari api neraka.

Ilustrasi - ini golongan orang-orang yang merugi pada bulan Ramadan (Foto: tirto)

Jakarta, Jurnas.com - Bulan Ramadan merupakan anugerah agung yang dipenuhi dengan limpahan rahmat, ampunan, serta jaminan pembebasan dari api neraka.

Pada bulan suci ini, Allah SWT memberikan fasilitas spiritual yang luar biasa dengan membuka pintu surga, menutup rapat pintu neraka, dan membelenggu setan-setan agar hamba-Nya dapat beribadah dengan maksimal.

Namun, di balik segala keutamaan tersebut, terselip sebuah peringatan yang menggetarkan hati bagi mereka yang abai.

Rasulullah SAW mengisahkan sebuah momentum saat beliau menaiki mimbar dan Malaikat Jibril memanjatkan doa:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ 

"Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan kemudian Ramadan itu berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni" (HR. Tirmidzi).

Pengamalan Nabi terhadap doa ini menjadi bukti kuat bahwa Ramadan adalah kesempatan emas yang sangat tragis jika dilewatkan begitu saja tanpa membawa pulang pengampunan dari Sang Pencipta.

Golongan orang yang merugi ini umumnya adalah mereka yang membiarkan Ramadan berlalu tanpa adanya peningkatan kualitas ibadah.

Mereka tetap terjebak dalam kelalaian, mengabaikan shalat, enggan menyentuh Al-Qur`an, serta menutup diri dari dzikir dan istighfar, padahal waktu ini adalah saat terbaik untuk memperbaiki hubungan yang retak dengan Allah SWT.

Kerugian yang lebih dalam juga dirasakan oleh mereka yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Hal ini terjadi karena mereka tidak mampu menyelaraskan puasa fisik dengan penjagaan akhlak dan lisan.

Sebagaimana peringatan tegas dari Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang ia tahan".

Hadis ini mengingatkan bahwa puasa bukanlah sekadar menahan haus, melainkan sebuah latihan disiplin diri untuk meninggalkan kemaksiatan.

Pada akhirnya, esensi dari seluruh rangkaian ibadah di bulan ini adalah untuk mencetak pribadi yang bertakwa.

Allah SWT telah menetapkan tujuan ini secara eksplisit dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Jika Ramadan berlalu tanpa meninggalkan bekas perubahan perilaku yang nyata atau peningkatan kesalehan, maka seseorang tersebut benar-benar telah kehilangan peluang terbesar yang Allah tawarkan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap Muslim bergegas menjadikan setiap detik di bulan penuh berkah ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, agar tidak keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan hampa dan tanpa ampunan.

KEYWORD :

Info Keislaman Orang Merugi Bulan Ramadan Ibadah Puasa Rasulullah SAW




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :