Ilustrasi gelombang panas ekstrem (Foto: kupastuntas)
Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas ekstrem kini tidak lagi sekadar fenomena musiman. Intensitas dan durasinya yang semakin meningkat membuat miliaran orang di dunia menghadapi risiko kesehatan yang lebih serius.
Selain dampak yang sudah dikenal seperti dehidrasi, kelelahan, dan sengatan panas, para ilmuwan mulai menemukan efek lain yang lebih tersembunyi. Paparan panas ekstrem diduga dapat mempercepat proses penuaan manusia pada tingkat sel.
Temuan tersebut muncul dari penelitian yang dilakukan peneliti di USC Leonard Davis School of Gerontology dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances. Studi ini menunjukkan bahwa suhu tinggi yang berkepanjangan dapat memengaruhi usia biologis seseorang.
Berbeda dengan usia kronologis yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran, usia biologis menggambarkan kondisi nyata sel, jaringan, dan organ tubuh. Ketika usia biologis lebih tinggi dari usia kronologis, risiko penyakit dan penurunan kesehatan biasanya meningkat.
Dikutip dari Earth, peneliti senior Jennifer Ailshire menjelaskan bahwa orang yang tinggal di wilayah bersuhu lebih panas cenderung mengalami penuaan biologis lebih cepat. Karena itu, hubungan antara panas ekstrem dan kesehatan jangka panjang kini semakin menjadi perhatian ilmuwan.
Untuk meneliti hal tersebut, para peneliti menganalisis data lebih dari 3.600 orang berusia 56 tahun ke atas yang berpartisipasi dalam Health and Retirement Study. Penelitian berlangsung selama enam tahun dengan pengambilan sampel darah secara berkala.
Dari sampel tersebut, ilmuwan memeriksa perubahan epigenetik, yaitu modifikasi kimia yang memengaruhi cara gen bekerja tanpa mengubah struktur DNA. Salah satu mekanisme utama yang diamati adalah metilasi DNA yang dapat mengaktifkan atau menonaktifkan gen.
Peneliti Eunyoung Choi mengatakan tim menggunakan metode “jam epigenetik” untuk membaca pola metilasi tersebut. Metode ini memungkinkan ilmuwan memperkirakan usia biologis seseorang melalui perubahan molekuler dalam tubuh.
Selanjutnya, data biologis tersebut dibandingkan dengan catatan indeks panas antara tahun 2010 hingga 2016. Analisis menunjukkan adanya hubungan kuat antara frekuensi paparan panas ekstrem dan percepatan penuaan biologis.
Menurut definisi National Weather Service, panas ekstrem dihitung menggunakan heat index yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan. Kombinasi dua faktor ini menentukan seberapa berat tekanan panas yang dialami tubuh manusia.
Paparan panas dalam kategori “Extreme Caution” hingga “Danger” ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan biologis tubuh. Dengan kata lain, semakin sering seseorang menghadapi hari dengan panas ekstrem, semakin cepat pula proses penuaan sel terjadi.
Dampak tersebut terlihat jelas pada wilayah yang mengalami musim panas panjang. Peserta yang tinggal di Phoenix, misalnya, menunjukkan percepatan penuaan biologis hingga sekitar 14 bulan dibandingkan mereka yang tinggal di daerah dengan hari panas jauh lebih sedikit.
Untuk memastikan hasilnya konsisten, peneliti menggunakan tiga jenis jam epigenetik berbeda yang semuanya menunjukkan pola serupa. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa panas ekstrem memang dapat mempercepat perubahan biologis tubuh.
Namun demikian, risiko tersebut tidak dialami semua kelompok secara sama. Orang lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak panas yang berkepanjangan.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat mulai berkurang. Karena itu, kelembapan tinggi dapat memperburuk kondisi karena menghambat proses penguapan yang seharusnya membantu menurunkan suhu tubuh.
Akibatnya, lansia lebih mudah mengalami kelelahan panas, heatstroke, hingga penurunan sistem imun. Dalam jangka panjang, paparan panas berulang juga berpotensi memperburuk berbagai penyakit kronis.
Temuan ini sekaligus membuka sejumlah pertanyaan baru bagi para ilmuwan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah percepatan penuaan akibat panas dapat dipulihkan atau justru berdampak permanen pada kesehatan.
Di sisi lain, hasil studi ini juga memberi sinyal bagi pembuat kebijakan. Infrastruktur kota, ruang terbuka, serta desain bangunan mungkin perlu disesuaikan agar masyarakat lebih terlindungi dari panas ekstrem.
Dengan suhu global yang terus meningkat dan populasi dunia yang semakin menua, risiko tersebut menjadi semakin relevan. Karena itu, para peneliti menilai bahwa menghadapi panas ekstrem kini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan proses penuaan manusia.(*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gelombang Panas Ekstrem Penuaan Sel Manusia Perubahan Iklim




















