Kamis, 12/03/2026 13:35 WIB

Mengapa Komunisme Mustahil Sejalan dengan Islam?





Secara aqidah dan syariat, komunisme yang berbasis materialisme dialektis dan ateisme jelas bertolak belakang dengan nilai Islam yang berbasis Tauhid.

Ilustrasi - ini pandangan Islam soal golongan atau orang komunis (Foto: Unsplash/ Indonesia Bertauhid)

Jakarta, Jurnas.com - Komunisme secara teoretis dikenal sebagai gagasan yang mengusung kepemilikan kolektif atas alat produksi demi menghapus sekat-sekat kelas sosial.

Namun, di balik narasi ekonomi tersebut, ideologi ini membawa akar pemikiran ateisme yang secara fundamental menafikan eksistensi Tuhan.

Bagi umat Islam, konsep ini merupakan kontradiksi nyata terhadap prinsip dasar aqidah yang menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb dan Pengatur alam semesta.

Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia memiliki poros utama yang disebut Tauhid.

Segala bentuk pemikiran yang meniadakan peran Sang Pencipta dianggap menyimpang dari fitrah dan tujuan hidup manusia. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur`an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat di atas menjadi bukti mutlak bahwa ideologi apa pun yang memisahkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan telah kehilangan arah fundamentalnya.

Sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh komunisme, termasuk Karl Marx, memandang agama sebagai hambatan dalam perjuangan kelas sosial.

Istilah agama adalah candu bagi masyarakat mencerminkan pandangan bahwa iman hanya dianggap sebagai alat pelipur lara yang menghambat kemajuan.

Sebaliknya, Islam memandang agama bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai way of life (pedoman hidup).

Agama dalam Islam mengatur segala dimensi, mulai dari hubungan privat dengan Tuhan hingga urusan publik yang kompleks, sehingga mustahil memisahkan kesejahteraan sosial dari nilai-nilai spiritual.

Salah satu perbedaan mencolok lainnya terletak pada pengaturan harta. Jika komunisme berupaya menghapuskan kepemilikan pribadi secara total, Islam justru memberikan perlindungan terhadap hak individu selama diperoleh melalui koridor yang benar. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil..." (QS. An-Nisa: 29)

Melalui ayat ini, Islam menunjukkan keadilan yang presisi: menghargai usaha individu namun tetap melarang praktik eksploitasi dan kecurangan.

Islam menjawab tantangan kesenjangan sosial bukan melalui penghapusan kelas secara paksa, melainkan melalui instrumen spiritual dan ekonomi yang seimbang. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keadilan sejati lahir dari hati yang beriman.

Melalui mekanisme wajib seperti Zakat, serta anjuran Sedekah dan Wakaf, Islam memastikan bahwa harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja.

Inilah jalan tengah yang ditawarkan Islam—menghormati jerih payah individu namun mewajibkan adanya tanggung jawab sosial yang nyata.

KEYWORD :

Info Keislaman bahaya komunisme aqidah tauhid ideologi tanpa Tuhan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :