Rabu, 11/03/2026 13:57 WIB

Penelitian Terbaru: Pemanasan Global Melaju Lebih Cepat 15 Tahun Terakhir





Pemanasan global telah meningkatkan suhu Bumi selama beberapa dekade terakhir

ilustrasi kenaikan suhu bumi (Foto: UPI.com)

Jakarta, Jurnas.com - Pemanasan global telah meningkatkan suhu Bumi selama beberapa dekade terakhir. Namun penelitian terbaru menunjukkan laju kenaikan suhu planet ini kemungkinan meningkat lebih cepat dalam sekitar 15 tahun terakhir.

Analisis terbaru terhadap sejumlah catatan suhu global menemukan bahwa Bumi mulai memanas lebih cepat sejak sekitar 2015 dibandingkan periode sebelumnya.

Dikutip dari Earth, deretan tahun dengan suhu tertinggi yang tercatat belakangan ini diduga bukan sekadar anomali sementara, melainkan bagian dari tren pemanasan yang semakin tajam.

Penelitian tersebut dipimpin oleh ilmuwan iklim Stefan Rahmstorf dari Potsdam Institute for Climate Impact Research. Ia menemukan adanya percepatan pemanasan yang konsisten dalam lima dataset suhu global yang berbeda.

Menurut analisis itu, titik perubahan mulai terlihat sekitar 2013 hingga 2014 ketika kurva pemanasan global mulai menanjak lebih tajam. Temuan ini penting karena fluktuasi iklim jangka pendek sering kali menutupi gambaran sebenarnya tentang tren pemanasan jangka panjang.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, para peneliti menghapus pengaruh faktor alam sementara seperti fenomena El Niño, aktivitas matahari, dan letusan gunung berapi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi suhu global selama satu hingga dua tahun tanpa mengubah tren jangka panjang.

Setelah “kebisingan” iklim tersebut disaring, pola yang lebih jelas pun terlihat. Dalam satu dekade terakhir, suhu global meningkat sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode 1970 hingga 2015 yang rata-rata hanya sekitar 0,20 derajat Celsius per dekade. Bahkan, tidak ada periode sepuluh tahun sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1880 yang mengalami pemanasan secepat dekade terakhir.

Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa tahun 2023 dan 2024 menjadi dua tahun terpanas dalam catatan modern. Bahkan setelah efek El Niño dan peningkatan aktivitas matahari dihilangkan dari perhitungan, kedua tahun tersebut tetap berada di posisi teratas dalam daftar suhu global.

Para ilmuwan menilai lonjakan suhu itu kemungkinan mencerminkan tren pemanasan yang lebih kuat, bukan sekadar kebetulan akibat fenomena alam yang terjadi bersamaan. Artinya, pemanasan global mungkin telah memasuki fase baru yang lebih cepat dari sebelumnya.

Penelitian ini juga menyoroti implikasi terhadap target suhu global dalam Paris Agreement. Kesepakatan internasional tersebut menetapkan batas pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri.

Walau melampaui batas tersebut dalam satu tahun tidak berarti target telah gagal secara permanen, para ilmuwan memperingatkan tren saat ini bisa membuat batas tersebut terlewati secara jangka panjang sebelum 2030 jika laju pemanasan terus berlanjut.

Para peneliti masih mempelajari penyebab pasti percepatan pemanasan ini. Salah satu kemungkinan adalah berkurangnya partikel aerosol di atmosfer yang sebelumnya membantu memantulkan sinar matahari dan sedikit mendinginkan Bumi.

Penurunan polusi udara di beberapa wilayah dunia memang baik bagi kesehatan manusia. Namun, kondisi itu juga dapat membuat efek pemanasan dari gas rumah kaca menjadi lebih terlihat.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa masa depan suhu Bumi tetap sangat bergantung pada tindakan manusia. Upaya menurunkan emisi karbon hingga mencapai kondisi net zero menjadi kunci utama untuk menghentikan kenaikan suhu global.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters ini memperkuat pesan bahwa penanganan perubahan iklim tidak bisa ditunda. Tanpa pengurangan emisi yang signifikan, tren pemanasan yang semakin cepat berpotensi membawa dampak besar bagi ekosistem dan kehidupan manusia di seluruh dunia. (*)

KEYWORD :

Pemanasan Global Suhu Bumi Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :