Ilustrasi pasangan dalam berumah tangga (foto:grid)
Jakarta, Jurnas.com - Pandangan generasi muda sering diasosiasikan dengan sikap yang lebih modern terhadap kesetaraan gender. Namun survei global terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks: sebagian pria dari generasi muda justru lebih mendukung peran tradisional dalam pernikahan dibanding generasi yang lebih tua.
Temuan tersebut berasal dari survei terhadap 23.000 responden di 29 negara yang dilakukan oleh lembaga riset Ipsos bersama Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London. Studi ini dirilis dalam rangka memperingati International Women’s Day 2026.
Dikutip dari Earth, hasil survei menunjukkan bahwa 31 persen pria Gen Z setuju bahwa seorang istri seharusnya selalu menaati suaminya. Selain itu, 33 persen pria Gen Z juga berpendapat bahwa suami seharusnya memiliki keputusan akhir dalam hal-hal penting dalam keluarga.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pria dari generasi Baby Boomers yang lahir antara 1946 hingga 1964. Pada kelompok ini, hanya 13 persen yang setuju istri harus selalu patuh kepada suami dan 17 persen yang menilai suami harus memiliki keputusan terakhir.
Survei tersebut mendefinisikan Generation Z sebagai mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012. Dalam berbagai pertanyaan lain, pria Gen Z juga menunjukkan kecenderungan lebih kuat mendukung pandangan tradisional tentang peran perempuan.
Sekitar seperempat pria Gen Z dalam survei menyatakan perempuan sebaiknya tidak terlihat terlalu mandiri atau terlalu menunjukkan kemandirian. Sebaliknya, hanya sekitar 12 persen pria Baby Boomer yang memiliki pandangan serupa.
Perbedaan juga terlihat dalam pandangan terkait hubungan dan seksualitas. Sebanyak 21 persen pria Gen Z berpendapat bahwa “perempuan sejati” tidak seharusnya memulai hubungan seksual terlebih dahulu, sementara hanya 7 persen pria Baby Boomer yang memiliki pandangan yang sama.
Meski demikian, perempuan dari generasi muda cenderung memiliki pandangan yang lebih egaliter. Dalam survei tersebut, hanya 18 persen perempuan Gen Z yang setuju bahwa istri harus selalu menaati suami, dan hanya 12 persen yang berpendapat perempuan tidak seharusnya memulai hubungan seksual.
Penelitian ini juga mengungkap tekanan sosial yang dirasakan sebagian pria muda. Sebanyak 59 persen pria Gen Z merasa bahwa laki-laki saat ini dituntut melakukan terlalu banyak hal untuk mendukung kesetaraan gender, dibandingkan 45 persen pria Baby Boomer yang merasakan hal serupa.
Pandangan mengenai maskulinitas juga masih cukup kaku di kalangan pria muda. Sekitar 30 persen pria Gen Z menyatakan laki-laki tidak seharusnya mengatakan “aku sayang kamu” kepada teman pria mereka.
Selain itu, 43 persen pria Gen Z percaya bahwa laki-laki muda seharusnya berusaha terlihat tangguh secara fisik, bahkan jika mereka secara alami tidak memiliki tubuh besar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata responden secara keseluruhan.
Sebagian responden juga masih mengaitkan maskulinitas dengan peran pengasuhan anak. Sekitar 21 persen pria Gen Z menyatakan bahwa laki-laki yang aktif merawat anak dianggap kurang maskulin dibandingkan yang tidak.
Menariknya, survei juga menemukan adanya kesenjangan besar antara pandangan pribadi dan apa yang dianggap sebagai norma sosial. Rata-rata hanya 17 persen responden yang percaya perempuan harus bertanggung jawab atas sebagian besar pengasuhan anak.
Namun banyak orang mengira masyarakat di negara mereka masih mengharapkan hal tersebut. Sekitar 35 persen responden berpendapat bahwa mayoritas masyarakat masih menganggap perempuan harus memikul tanggung jawab utama dalam pekerjaan rumah tangga.
Chief Executive Kelly Beaver dari Ipsos Inggris dan Irlandia menyebut hasil survei ini menunjukkan adanya proses “negosiasi ulang” besar mengenai peran gender dalam masyarakat modern.
Menurutnya, generasi muda memiliki paradoks yang menarik. Mereka lebih terbuka terhadap perempuan yang sukses dalam karier, tetapi pada saat yang sama sebagian dari mereka masih mendukung norma pernikahan yang lebih tradisional.
Direktur Global Institute for Women’s Leadership, Heejung Chung, menilai temuan tersebut menunjukkan tekanan sosial yang kuat terhadap pria muda untuk mengikuti standar maskulinitas yang kaku.
Ia menambahkan bahwa banyak orang sebenarnya memiliki pandangan pribadi yang lebih progresif daripada yang mereka bayangkan tentang ekspektasi masyarakat. Menurutnya, memahami kesenjangan ini penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan setara di masa depan.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa perubahan norma gender tidak selalu berjalan lurus. Di tengah kemajuan menuju kesetaraan, sebagian generasi muda justru masih bergulat antara nilai modern dan tradisi lama dalam memandang peran laki-laki dan perempuan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gen Z Rumah Tangga Pernikahan Tradisional Kesetaraan Gender























