Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi (Foto: Ant)
Teheran, Jurnas.com - Pemerintah Iran mengirimkan sinyal kewaspadaan tinggi di tengah krisis yang mengguncang stabilitas dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat bahwa pihaknya telah dalam posisi siaga penuh menghadapi kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut.
Ketegangan ini muncul menyusul guncangan hebat pada pasar global yang dipicu oleh konflik di kawasan.
“Sembilan hari sejak Operasi Epic Mistake, harga minyak telah berlipat ganda sementara seluruh komoditas melonjak tajam,” tulis Araghchi melalui platform media sosial X dikutip pada Selasa (10/3).
Araghchi menuding Washington tengah merencanakan skenario berbahaya yang menyasar sektor-sektor strategis Iran demi meredam gejolak ekonomi domestik mereka.
Donald Trump Klaim Iran Serang Warganya
“Amerika Serikat sedang bersekongkol untuk menargetkan fasilitas minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi yang sangat besar,” ucapnya.
Menanggapi ancaman tersebut, diplomat senior ini menekankan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam. Araghchi menegaskan Iran sepenuhnya siap.
Ia juga melontarkan ancaman balasan yang serius dengan mengatakan bahwa mereka juga memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan.
Situasi di Timur Tengah berada di titik nadir sejak serangan besar-besaran yang melibatkan militer Israel dan AS pada akhir Februari lalu.
Operasi bertajuk Epic Fury tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons atas serangan yang melibatkan sekitar 50.000 tentara Amerika itu, Iran telah meluncurkan rangkaian drone dan rudal sebagai langkah pertahanan diri, yang menyasar aset militer AS di berbagai negara tetangga.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi Amerika Serikat Donald Trump























