Senin, 09/03/2026 16:19 WIB

Kisah Abu Nawas Mencari Neraka di Siang Hari





Salah satu kisah terkenal adalah ketika ia berjalan di siang hari sambil membawa lampu minyak untuk mencari neraka

Ilsutrasi Abu Nawas mencari neraka di sinag hari (Foto: Gurusiana)

Jakarta, Jurnas.com - Kisah tentang kecerdikan Abu Nawas selalu menarik untuk disimak. Tokoh yang dikenal jenaka sekaligus cerdas ini sering muncul dalam berbagai cerita hikmah yang sarat pesan moral.

Abu Nawas bukan sekadar tokoh cerita, melainkan juga seorang penyair Arab klasik yang terkenal pada masa kekuasaan Harun al-Rashid. Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani’ al-Hakami, sementara julukan Abu Nawas diberikan karena rambutnya yang ikal dan panjang hingga sebahu.

Ia lahir sekitar tahun 757 M di wilayah Ahwaz, Khuzistan, Persia. Dikutip dari berbagai sumber, meski demikian, sejumlah catatan sejarah menyebutkan terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya.

Dalam banyak cerita rakyat, Abu Nawas digambarkan sebagai sosok yang mampu menyampaikan kebenaran dengan cara unik. Salah satu kisah terkenal adalah ketika ia berjalan di siang hari sambil membawa lampu minyak untuk mencari neraka.

Peristiwa itu membuat warga Baghdad heran melihat tingkahnya. Mereka tidak memahami mengapa seorang yang dikenal cerdas justru berjalan di bawah terik matahari sambil menyalakan lampu.

Namun Abu Nawas tetap melakukan hal yang sama pada hari berikutnya. Ia berjalan menyusuri jalanan sambil menggoyangkan lampu minyak dan berhenti di beberapa sudut kota.

Keanehan itu membuat sebagian warga menganggap Abu Nawas telah kehilangan akal. Bahkan pada hari ketiga, beberapa orang akhirnya menangkapnya karena pada masa itu terdapat aturan yang melarang orang yang dianggap gila berkeliaran di kota.

Penangkapan tersebut kemudian sampai ke telinga Khalifah Harun al-Rashid. Merasa malu sekaligus penasaran, sang khalifah memanggil Abu Nawas ke istana untuk dimintai penjelasan.

Dengan nada tinggi, khalifah bertanya mengapa ia berjalan di siang hari sambil membawa lampu. Tanpa ragu, Abu Nawas menjawab bahwa ia sedang mencari neraka.

Jawaban itu membuat khalifah semakin heran dan menganggap Abu Nawas benar-benar gila. Namun Abu Nawas justru mengatakan bahwa orang-orang yang menangkapnya itulah yang tidak memahami maksud sebenarnya.

Untuk menjelaskan maksudnya, Abu Nawas meminta agar warga yang menangkapnya dikumpulkan di depan istana. Ia kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka tentang orang yang dianggap sesat dan munafik.

Warga yang hadir serempak mengatakan bahwa orang yang sesat pasti akan masuk neraka. Mendengar jawaban itu, Abu Nawas lalu mengangkat lampu yang dibawanya dan bertanya di mana sebenarnya neraka tersebut berada.

Warga menjawab bahwa neraka berada di akhirat dan merupakan milik Allah. Saat itulah Abu Nawas menyampaikan pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.

Ia bertanya mengapa manusia di dunia begitu mudah menentukan siapa yang akan masuk neraka, padahal keputusan itu sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Pertanyaan sederhana itu membuat khalifah dan warga Baghdad menyadari maksud sebenarnya dari tindakan Abu Nawas.

Mendengar penjelasan tersebut, Khalifah Harun al-Rashid pun tertawa dan memahami kecerdikan sahabatnya itu. Kisah ini kemudian dikenang sebagai salah satu cerita Abu Nawas yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan kadang disampaikan dengan cara sederhana namun tajam.

Melalui kisah tersebut, Abu Nawas seolah mengingatkan bahwa manusia seharusnya lebih berhati-hati dalam menilai dan menghakimi orang lain. Sebab pada akhirnya, keputusan tentang surga dan neraka adalah hak mutlak Tuhan, bukan manusia. (*)

KEYWORD :

Kisah Inspiratif Abu Nawas Keberadaan Neraka Kisah Islami




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :