Senin, 09/03/2026 12:38 WIB

Sosok Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru





 Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru pada Minggu (8/3) waktu setempat.

Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei resmi ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran (Foto: X/Nexta_tv)

Jakarta, Jurnas.com - Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru pada Minggu (8/3) waktu setempat.

Putra Kedua Khamenei ini dinobatkan oleh para Majles-e Khobregan (Majelis Ahli) usai sang Ayah, Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam agresi militer Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada 28 Februari lalu.

Pria berusia 56 tahun ini selamat dari pemboman di Iran yang mengakibatkan ayah, ibu, istri, dan salah saudara perempuannya wafat.

Dari sisi perjalanan politik, diketahui bahwa Khamenei muda tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum.

Tetapi selama beberapa dekade ia menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dan membangun hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) paramiliter.

Selain itu, Mojtaba Khamenei tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka, sebuah topik sensitif, mengingat bahwa kenaikannya ke posisi pemimpin tertinggi secara efektif akan menciptakan dinasti yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum revolusi Islam 1979.

Sebaliknya, Khamenei sebagian besar tetap bersikap rendah diri, tidak memberikan kuliah umum, khutbah Jumat, atau pidato politik.

Bahkan sampai-sampai banyak warga Iran `belum pernah mendengar suaranya`, meskipun selama bertahun-tahun mereka tahu bahwa ia merupakan bintang yang sedang naik daun di Iran.

Lahir pada 1969 di Mashhad, sekitar satu dekade sebelum Revolusi Islam 1979, Mojtaba tumbuh ketika ayahnya aktif menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Biografi resmi Ali Khamenei mencatat peristiwa ketika polisi rahasia SAVAK menggerebek rumah mereka dan memukuli sang ulama, sebelum keluarga diberi tahu bahwa dia pergi berlibur, meski akhirnya sang ayah mengaku memilih mengatakan kebenaran kepada anak-anaknya.

Setelah revolusi, keluarga Khamenei pindah ke Teheran. Mojtaba kemudian terlibat dalam Perang Iran-Irak bersama Batalion Habib ibn Mazahir dari Korps Garda Revolusi Islam. Sejumlah anggota batalion itu kemudian menduduki posisi intelijen penting, diduga dengan dukungan keluarga Khamenei.

Sejak Ali Khamenei menjadi pemimpin tertinggi pada 1989, pengaruh Mojtaba meningkat seiring waktu. Kabel diplomatik AS yang dipublikasikan WikiLeaks pada akhir 2000-an menyebutnya sebagai kekuatan di balik layar, dengan tudingan bahwa dia menjadi penjaga akses utama ayahnya dan membangun basis kekuasaan sendiri.

Mojtaba juga disebut luas di dalam rezim sebagai figur yang cakap dan tegas, meski memiliki keterbatasan kualifikasi teologis dan usia relatif muda saat itu.

KEYWORD :

Mojtaba Khamenei Pemimin Iran Baru Ayatollah Ali Khamenei




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :