Senin, 09/03/2026 12:39 WIB

Pakar Uhamka: Klaim Sepihak Trump Bukti Militer AS Terdesak di Iran





Menurut Emaridial, alih-alih menggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi, cuitan Trump tidak lebih dari sekadar retorika politik.

Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, New York, AS, 23 September 2025. REUTERS

Jakarta, Jurnas.com - Pakar hubungan luar negeri Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka), Dr. Emaridial Ulza menyoroti klaim Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bahwa Iran sudah menyerah dalam perang melawan Washington dan Israel.

Menurut Emaridial, alih-alih menggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi, cuitan Trump tidak lebih dari sekadar retorika politik, dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk.

"Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis," kata Emaridial dalam siaran persnya kepada Jurnas.com pada Minggu (8/3).

Trump mengatakan bahwa Iran telah menyerah usai Teheran meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan rudal yang terjadi sejak awal Maret. Politisi Partai Republik itu juga mengancam akan memberikan pukulan lebih dahsyat, dan membuka kemungkinan target baru.

"Pernyataan tersebut penuh kontradiksi yang menunjukan bahwa situasi di lapangan dalam agenda perang kemungkinan sangat kompleks dan Amerika dalam keadaan terdesak," ujar Emaridial.

Emaridial menambahkan bahwa dalam banyak situasi perang atau konflik internasional, deklarasi kemenangan sepihak biasanya digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membangun opini publik.

Pola ini berulang kali terlihat ketika AS melakukan negosiasi dagang dengan China, krisis di Korea Utara, hingga konflik-konflik sebelumnya di kawasan yang sama.

Klaim bahwa Iran telah menyerang, lanjut Emaridial, hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik membangun narasi triumfalis yang ia butuhkan untuk rakyatnya dan juga dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan.

"Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik," kata dia.

"Apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti UK atau juga spanyol menyusul jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi," dia menambahkan.

Terkait situasi ini, menurut akademi associate professor Uhamka tersebut, AS dan Iran membutuhkan penengah, dan Indonesia bisa menjadi bagian penting dengan menggalang pertemuan melalui OKI maupun negara Timur Tengah lain.

"Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung walaupun tidak secara langsung minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi keteganggan dengan segala konsekuensi yang didapatkan," dia mengatakan.

KEYWORD :

Perang AS vs Iran Pakar Uhamka Emaridial Ulza Presiden Donald Trump




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :