Sabtu, 07/03/2026 13:10 WIB

Studi: Emotional Eating Bikin Orang Pilih Junk Food Saat Stres atau Bahagia





Penelitian terbaru menemukan bahwa emosi yang dirasakan tepat sebelum makan memiliki pengaruh besar terhadap jenis makanan yang dipilih seseorang

Ilustrasi - orang sedang bekerja sambil makan (Foto: Istockphoto)

Jakarta, Jurnas.com - Banyak orang memulai hari dengan niat makan sehat, tetapi rencana itu sering runtuh saat emosi ikut bermain. Ketika stres, lelah, atau bahkan sedang bahagia, banyak orang tanpa sadar memilih junk food dibanding makanan sehat.

Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, yaitu kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan rasa lapar. Penelitian dari Flinders University menemukan bahwa emosi yang dirasakan tepat sebelum makan memiliki pengaruh besar terhadap jenis makanan yang dipilih seseorang.

Dikutip dari Earth, bagi banyak orang, menjalani pola makan sehat sering terasa sulit karena godaan makanan tidak sehat ada di mana-mana. Supermarket menaruh cokelat dan permen di dekat kasir, kafe menawarkan pastry bersama kopi, sementara camilan kemasan mudah ditemukan di tempat kerja.

Awalnya diet terasa mudah. Banyak orang mencoba mengurangi kalori, menghindari makanan tertentu, atau mengatur porsi makan. Namun seiring waktu, tekanan emosional dapat melemahkan disiplin tersebut.

Peneliti utama studi ini, Isaac Williams, menjelaskan bahwa emosi sesaat ternyata jauh lebih berpengaruh daripada karakter kepribadian seseorang.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kondisi emosi sesaat yang Anda rasakan merupakan pendorong yang jauh lebih kuat dalam menentukan kebiasaan ngemil dibandingkan kepribadian Anda secara keseluruhan atau pola suasana hati Anda yang biasanya,” kata Dr. Williams.

Untuk memahami hubungan antara emosi dan pilihan makanan, para peneliti tidak melakukan eksperimen di laboratorium. Mereka ingin melihat bagaimana orang memilih makanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 155 perempuan diminta mencatat semua camilan yang mereka konsumsi selama satu minggu dalam sebuah diary online. Selain itu, mereka juga mencatat emosi yang dirasakan tepat sebelum makan.

Selama penelitian, tercatat lebih dari 1.000 camilan.

Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun buah sering dipilih, makanan seperti cokelat, pastry, dan keripik kentang juga muncul sangat sering. Ketika data dianalisis, pola hubungan antara emosi dan jenis camilan mulai terlihat jelas.

Stres Tidak Membuat Orang Makan Lebih Banyak, Tapi Lebih Tidak Sehat

Penelitian ini menemukan bahwa emosi negatif seperti stres, sedih, frustrasi, atau kecewa sering muncul sebelum seseorang memilih camilan tidak sehat.

Namun menariknya, emosi negatif tidak selalu membuat orang makan lebih banyak. Sebaliknya, emosi tersebut mengubah jenis makanan yang dipilih.

“Bagi orang yang sedang mencoba menjalani diet, emosi negatif tampaknya bertindak sebagai pemicu yang membuat mereka melanggar niat untuk makan sehat. Bukan berarti mereka makan lebih banyak secara keseluruhan, tetapi mereka memilih makanan yang lebih tinggi kalori dan lebih rendah nilai gizinya,” kata Dr. Williams.

Contohnya, seseorang mungkin awalnya berniat makan buah saat istirahat kerja. Namun setelah mengalami percakapan yang menegangkan atau tugas yang melelahkan, pilihan tersebut bisa berubah menjadi cokelat atau keripik.

Selama ini emotional eating sering dikaitkan dengan stres atau kesedihan. Namun studi ini menemukan fakta menarik: emosi positif juga bisa memicu ngemil.

Peserta yang tidak sedang menjalani diet cenderung makan lebih banyak camilan ketika merasa bahagia, bersemangat, atau antusias. Dalam kondisi ini, camilan sering dianggap sebagai bentuk hadiah atau perayaan kecil.

“Kita sering menganggap makan untuk mencari kenyamanan (comfort eating) sebagai sesuatu yang dilakukan orang ketika mereka sedang sedih, tetapi bagi banyak orang, berada dalam suasana hati yang baik juga bisa menjadi godaan yang sama besarnya untuk memanjakan diri,” jelas Dr. Williams.

Misalnya saat mendapat kabar baik, merayakan pencapaian kecil, atau menikmati waktu santai bersama teman.

Kunci Menghindari Emotional Eating: Sadar Emosi

Tim peneliti juga mencoba melihat apakah cara orang mengelola emosi bisa mencegah emotional eating. Beberapa orang mencoba menekan perasaan, sementara yang lain berusaha mengubah cara berpikir tentang situasi emosional.

Namun strategi tersebut ternyata tidak terlalu efektif. Sebaliknya, satu faktor justru paling berpengaruh: kesadaran emosional.

Kesadaran emosional berarti seseorang mampu mengenali dan memahami perasaan yang muncul saat itu juga. Ketika seseorang menyadari bahwa ia sedang stres atau lelah, muncul jeda kecil sebelum mengambil keputusan untuk makan.

“Kesadaran emosional tampaknya merupakan kunci yang sebenarnya,” kata Dr. Williams.

Dalam jeda singkat itu, seseorang bisa mempertimbangkan kembali apakah ia benar-benar lapar atau hanya bereaksi terhadap emosi.

Para peneliti menyarankan kebiasaan sederhana: berhenti sejenak sebelum mengambil camilan.

Dengan bertanya pada diri sendiri apakah rasa lapar benar-benar ada atau hanya respons terhadap stres, seseorang bisa membuat pilihan makanan yang lebih sehat.

“Kita tidak selalu se-rasional yang kita kira dalam hal makanan. Memahami emosi yang kita rasakan saat itu juga dapat membantu memutus kebiasaan beralih ke camilan tidak sehat ketika merasa stres, lelah, atau kewalahan,” ujar Dr. Williams.

Temuan ini menunjukkan bahwa memahami emosi sehari-hari bukan hanya penting bagi kesehatan mental, tetapi juga dapat membantu menjaga pola makan yang lebih sehat. 

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Food Quality and Preference. (*)

KEYWORD :

Emotional Eating Junk Food Cemilan Tidak Sehat Kebiasaan Makan Pilihan Makanan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :