Ilustrasi - ini sejarah hari peringatan Bloody Sunday (Foto: High Museum of Art)
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 7 Maret tetap menjadi salah satu catatan paling kelam sekaligus heroik dalam sejarah perjuangan hak asasi manusia global.
Dikenal sebagai Bloody Sunday atau Minggu Berdarah, peristiwa yang terjadi pada tahun 1965 di Selma, Alabama, ini menjadi tonggak krusial yang memicu lahirnya Undang-Undang Hak Pilih di Amerika Serikat dan menginspirasi gerakan keadilan di seluruh dunia.
Tragedi ini berakar dari upaya para aktivis hak sipil untuk menuntut hak pilih bagi warga kulit hitam di Alabama, yang saat itu terus dihalangi oleh praktik diskriminatif.
Veteran Marinir AS Kritik Perang untuk Israel
Aksi damai tersebut direncanakan berupa jalan kaki sejauh 87 kilometer dari Selma menuju ibu kota negara bagian, Montgomery.
Dipimpin oleh tokoh-tokoh muda seperti John Lewis dan Hosea Williams, sekitar 600 demonstran memulai langkah mereka dengan damai. Mereka membawa pesan kesetaraan dan keadilan, tanpa menyadari bahwa kekerasan brutal telah menanti di ujung jembatan.
Saat para pengunjuk rasa menyeberangi Jembatan Edmund Pettus, mereka dihadang oleh pasukan polisi negara bagian dan polisi hutan. Perintah untuk membubarkan diri segera diikuti oleh serangan brutal.
Tanpa adanya provokasi, polisi melepaskan gas air mata dan menyerang massa menggunakan tongkat serta cambuk.
Gambar-gambar para demonstran yang bersimbah darah dan tak berdaya di bawah kepulan asap gas air mata tersebar ke seluruh dunia melalui siaran televisi.
Rekaman mengerikan tersebut memicu kemarahan publik internasional dan menekan pemerintah Amerika Serikat untuk segera bertindak.
Kebrutalan di hari Minggu itu justru menjadi bumerang bagi pihak otoritas. Hanya berselang beberapa bulan setelah tragedi tersebut, Presiden Lyndon B. Johnson menandatangani Voting Rights Act tahun 1965.
Undang-undang ini secara resmi melarang praktik-praktik diskriminatif dalam pemungutan suara yang selama ini menjegal warga minoritas.
Hingga tahun 2026 ini, jembatan di Selma tersebut tetap berdiri sebagai monumen pengingat bahwa hak demokrasi sering kali harus dibayar dengan pengorbanan yang besar.
Setiap tanggal 7 Maret, ribuan orang dari berbagai latar belakang melakukan napak tilas di Jembatan Edmund Pettus. Peringatan ini bukan sekadar mengenang luka masa lalu, melainkan sebuah refleksi bahwa perjuangan melawan rasisme dan ketidakadilan belum sepenuhnya usai.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
7 Maret Edmund Pettus Kulit Hitam Amerika Serikat Bloody Sunday Minggu Berdarah


























