Ilustrasi ikan yang tercemar mikroplastik (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Mikroplastik kini menjadi ancaman nyata. Tidak hanya di permukaan laut, penelitian terbaru menemukan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter tetap terdeteksi hingga kedalaman 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia.
Dikutip dari laman resmi BRIN pada Sabtu (7/3), temuan ini dilaporkan dalam jurnal ilmiah internasional, Marine Pollution Bulletin, melalui artikel berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways (2024).
Penelitian tersebut ditulis oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.
Arus Lintas Indonesia yang juga dikenal sebagai Arlindo merupakan sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui sejumlah selat penting, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” kata Corry, pada Kamis (5/3).
Selama ini, penelitian tentang Arlindo lebih banyak berfokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Namun, distribusi mikroplastik di kolom air, terutama hingga laut dalam, masih jarang dikaji.
“Penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo. Selama ini, sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir,” ujar dia.
Penelitian dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.
Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air pada berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth), sehingga peneliti dapat mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu.
Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.
Hasil analisis menunjukkan lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.
“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelas Corry.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman. Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Ancaman Mikroplastik Lautan Indonesia Peneliti BRIN Corry Yanti Manullang























