Tim CNRRI menyampaikan hasil pengamatan mereka di Kawasan Transmigrasi Salor, Papua Selatan, kepada Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat melakukan audiensi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (Foto: Humas Kementrans)
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Transmigrasi menerima berbagai masukan dari peneliti China National Rice Research Institute (CNRRI) terkait hasil pengamatan mereka di Kawasan Transmigrasi Salor, Papua Selatan.
Masukan tersebut disampaikan tim CNRRI kepada Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat melakukan audiensi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/3).
"Kami terima semua masukan yang disampaikan oleh tim CNRRI. Nanti akan kami follow-up lebih lanjut. Saya akan bicara juga dengan Duta Besar (Tiongkok) tentang pengembangan berikutnya. Yang pasti, kami menyiapkan lahannya, kami menyiapkan tenaga kerjanya, kemudian pemerintah Tiongkok membantu dalam konteks permodalan dan juga membantu dalam konteks teknologinya," kata Menteri Iftitah.
Dalam pertemuan itu, tim peneliti CNRRI memaparkan sejumlah temuan setelah meninjau langsung potensi pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor. Mereka menilai wilayah tersebut memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian skala luas, terutama untuk komoditas padi.
"Kami lihat di Papua tanah luas, potensi juga luas. Saya lihat juga ada masyarakat Tiongkok di Papua. Mereka membangun pabrik dan melakukan bisnis di sana, jadi saya yakin ini bisa jadi kerja sama antara Indonesia-Tiongkok. Tapi perlu juga dukungan kebijakan dari Pemerintah Indonesia untuk mengundang perusahaan Tiongkok menanam modal ke Papua," kata Peneliti CNRRI, Zhonghua Sheng.
Meski memiliki potensi besar, tim CNRRI juga menyampaikan beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut.
Pertama, perlunya dukungan kebijakan yang kuat untuk menarik investasi, khususnya dari perusahaan pertanian internasional. Kedua, pembangunan infrastruktur dinilai masih perlu diperkuat, terutama karena jarak Papua yang jauh dari pusat ekonomi di Pulau Jawa sehingga biaya logistik masih cukup tinggi.
Ketiga, CNRRI menyoroti aspek teknologi pascapanen, seperti fasilitas pengeringan padi yang dinilai masih perlu ditingkatkan agar produksi pertanian dapat lebih optimal. Untuk itu, Tim CNRRI menyampaikan adanya minat dari perusahaan produsen peralatan pertanian di Tiongkok yang berpotensi bekerja sama dalam pengembangan teknologi pertanian di Papua Selatan.
"Saya komunikasi dengan salah satu perusahaan yang pernah kerja sama dengan perusahaan di Surabaya. Mereka adalah produsen equipment (peralatan) pertanian. Mereka juga sangat berminat untuk kerja sama dengan Papua Selatan," tutur Zhonghua Sheng.
Terkait mahalnya biaya logistik untuk distribusi hasil panen, Menteri Iftitah menilai sebaiknya dijual ke wilayah terdekat dari Papua Selatan. Untuk itu, Mentrans meminta dukungan CNRRI dan Pemerintah Tiongkok bisa membantu memasarkan produk yang dihasilkan dari kawasan transmigrasi ke pasar global.
"Seharusnya (hasil produksi) tidak harus ke Jawa, bisa ke Papua Nugini, Filipina, Australia, Selandia Baru dan area Pasifik, itu yang kami butuh dari pemerintah Tiongkok," kata Menteri Iftitah.
Mentrans menegaskan pemerintah Indonesia berkomitmen memperkuat kerja sama internasional, termasuk dengan Tiongkok, untuk mendorong pengembangan pertanian modern di kawasan transmigrasi.
Zhonghua Sheng menambahkan pihaknya akan melaporkan hasil kunjungan ini kepada pimpinan di Tiongkok serta membagikan informasi tentang potensi Papua kepada perusahaan-perusahaan yang tertarik berinvestasi. Selain itu, CNRRI juga menawarkan peluang peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dengan mengundang langsung ke Negeri Tirai Bambu.
"Saya sudah lapor ke bos saya dan sudah minta izin untuk mengundang teknisi-teknisi dari Indonesia untuk kunjungan ke Tiongkok untuk melihat penampakan perkembangan pertanian di Tiongkok dan bisa ikut short-term course (kursus singkat) di Tiongkok," tambah Zhonghua Sheng.
China National Rice Research Institute (CNRRI) merupakan lembaga penelitian nasional di Tiongkok yang berfokus pada riset padi, termasuk pemuliaan varietas unggul, teknologi budidaya, serta peningkatan produktivitas dan kualitas beras. Misinya mengembangkan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi perberasan untuk mendukung ketahanan pangan, meningkatkan hasil panen padi, dan memajukan industri perberasan secara berkelanjutan di Tiongkok maupun dunia.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Peneliti CNRRI Kawasan Transmigrasi Salor Papua Selatan Sentra Padi Kementerian Transmigrasi

























