Kamis, 05/03/2026 23:21 WIB

Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Anda Sering Melewatkan Sarapan?





Apa yang terjadi pada tubuh jika melewatkan sarapan atau mungkin sahur bagi yang melaksanakan puasa seperti di bulan Ramadan ini

Ilustrasi sedang makan (Foto: Pexels/Nadin Sh)

Jakarta, Jurnas.com - Apa yang terjadi pada tubuh jika melewatkan sarapan atau mungkin sahur bagi yang melaksanakan puasa seperti di bulan Ramadan ini. Kebiasaan ini dapat memengaruhi kadar gula darah, fungsi otak, hingga metabolisme tubuh dalam jangka pendek maupun panjang.

Para ahli metabolisme menjelaskan bahwa bagi orang yang sehat secara metabolik, sesekali melewatkan sarapan mungkin tidak selalu berbahaya. Namun jika dilakukan secara rutin, kebiasaan ini bisa membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan gula darah.

Berikut beberapa hal yang dapat terjadi pada tubuh ketika Anda melewatkan sarapan atau sahur yang dikutip dari Health.

1. Tubuh Bekerja Lebih Keras Menjaga Gula Darah

Sarapan secara harfiah berarti “memutus puasa” setelah tidur malam. Ketika Anda melewatkannya, tubuh memperpanjang periode puasa dan menunda pelepasan insulin pertama pada hari itu.

Untuk mencegah gula darah turun terlalu rendah, pankreas akan melepaskan hormon glukagon yang memerintahkan hati melepaskan cadangan glukosa ke dalam darah.

Menurut ahli endokrinologi Rekha Kumar, pada orang yang sering melewatkan sarapan, gula darah biasanya masih berada dalam kisaran normal. Namun tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankannya.

Selain itu, puasa lebih lama juga dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam darah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkontribusi pada resistensi insulin, yaitu ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik.

2. Otak Kekurangan “Bahan Bakar”

Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika tubuh terlalu lama tidak mendapat asupan makanan, sebagian orang dapat mengalami: Sulit berkonsentrasi; mudah marah atau “hangry”; sakit kepala; hingga rasa lelah dan brain fog.

Saat tidak ada cukup glukosa, tubuh mulai memproduksi keton dari lemak sebagai sumber energi alternatif. Meski membantu menyediakan energi, keton juga bisa memicu rasa “berkabut” atau kurang fokus pada sebagian orang.

3. Lonjakan Gula Darah Bisa Lebih Tinggi Saat Makan Siang

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi ketika seseorang akhirnya makan di siang hari.

Penelitian bahkan menemukan bahwa lonjakan gula darah setelah makan siang bisa meningkat sekitar 40–50% lebih tinggi dibandingkan ketika seseorang sarapan terlebih dahulu.

Hal ini terjadi karena tubuh belum “dipersiapkan” oleh respons insulin sejak pagi.

4. Berpotensi Membuat Anda Makan Lebih Banyak

Beberapa studi menemukan bahwa orang yang tidak sarapan cenderung merasa lebih lapar sepanjang hari. Rasa lapar yang lebih kuat ini bisa mendorong konsumsi kalori lebih banyak.

Makan pertama setelah puasa panjang juga biasanya memicu lonjakan insulin yang lebih besar, yang dapat meningkatkan rasa lapar dan keinginan makan.

Namun, efek ini tidak selalu terjadi pada semua orang. Beberapa orang tetap dapat mengontrol asupan makan meskipun tidak sarapan.

5. Bisa Mengganggu Jam Biologis Tubuh

Ritme sirkadian tidak hanya mengatur tidur, tetapi juga memengaruhi metabolisme dan gula darah.

Pada pagi hari, tubuh umumnya lebih sensitif terhadap insulin, sehingga mampu mengelola glukosa lebih efisien. Melewatkan sarapan dapat bertentangan dengan ritme alami tersebut.

Karena itu, banyak ahli menyarankan waktu makan yang selaras dengan jam biologis tubuh untuk menjaga kesehatan metabolisme.

Siapa yang Sebaiknya Tidak Melewatkan Sarapan?

Dampak tidak sarapan bisa lebih besar pada orang dengan kondisi metabolik tertentu, seperti: PCOS; prediabetes; diabetes tipe 2.

Pada kelompok ini, melewatkan sarapan dapat menyebabkan fluktuasi gula darah lebih besar dan meningkatkan rata-rata kadar gula darah dalam jangka panjang.

Perubahan hormon, terutama pada perempuan yang mengalami perimenopause, juga dapat memperkuat efek tersebut karena hormon estrogen berperan dalam sensitivitas insulin.

Jika Sarapan, Apa yang Sebaiknya Dimakan?

Agar kenyang lebih lama dan gula darah tetap stabil, para ahli merekomendasikan sarapan dengan kombinasi nutrisi berikut: Protein sekitar 25 gram untuk membantu rasa kenyang dan respons insulin; Lemak sehat untuk memperlambat penyerapan makanan; Serat larut dari buah, sayur, kacang, atau biji-bijian; dan Karbohidrat indeks glikemik rendah seperti kacang-kacangan atau gandum utuh

Contoh menu sederhana antara lain telur dengan roti gandum, yogurt dengan buah beri, atau oatmeal dengan kacang dan buah.

Dengan demikian, melewatkan sarapan tidak selalu berbahaya bagi semua orang. Namun jika dilakukan secara rutin, kebiasaan ini dapat memengaruhi pengaturan gula darah, energi otak, dan bahkan pola makan sepanjang hari.

Bagi sebagian orang—terutama yang memiliki masalah metabolik—sarapan justru dapat menjadi kunci untuk menjaga stabilitas gula darah dan kesehatan metabolisme secara keseluruhan. (*)

Sumber: Health

KEYWORD :

Manfaat Sarapan Kadar Gula Darah Manfaat Sahur Jam Biologis Tubuh




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :