Kamis, 05/03/2026 16:12 WIB

Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Fokus Benahi Manajemen dan Hilirisasi Padi





Kolaborasi Indonesia - Tiongkok fokus benahi manajemen dan hilirisasi padi di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, Papua Selatan

Peninjauan padi di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan (Foto: Humas Kementrans)

Jakarta, Jurnas.com - Peningkatan produktivitas dan mutu padi di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, menjadi fokus rapat pertemuan antara Kementerian Transmigrasi, Pemerintah Daerah, China National Rice Research Institute (CNRRI), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pertemuan yang digelar di Bapperida PPS Kabupaten Merauke ini membahas tantangan teknis budidaya, penguatan irigasi, hingga kebutuhan teknologi pascapanen untuk mendorong daya saing beras Merauke. Mewakili Kementerian Transmigrasi, Dewi Nurini menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut kerja sama riset Indonesia - Tiongkok di bidang pertanian.

“Tujuan kami kemari adalah salah satu tindakan kunjungan Menteri Transmigrasi ke Cina pada tahun 2025, guna mendukung peningkatan produksi padi dalam rangka penguatan ketahanan pangan di Indonesia, khususnya pada kawasan transmigrasi yang memiliki potensi pengembangan pertanian yaitu di Kawasan Transmigrasi Salor,” ujar Dewi Nurini dalam siaran pers diterima di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke Jermias Paulus Ruben Ndiken menegaskan dukungan pemerintah daerah dengan menekankan keseimbangan antara pengembangan padi dan pelestarian komoditas lokal.

“Oke silakan dijadikan tempat untuk padi, tapi jangan lupa juga tanam sagu, kan itu ciri khas (orang Papua). Itu ciri khas adatnya mengarah ke tanam sagu,” ucapnya.

Dari sisi potensi, Pemerintah Provinsi Papua Selatan menyampaikan bahwa total pengembangan sawah di Merauke mencapai sekitar 81.000 hektare melalui optimalisasi lahan dan program cetak sawah rakyat.

Pada 2025, luas panen meningkat 68%, produksi gabah dan beras naik 66,4%, serta indeks pertanaman meningkat dari 155 menjadi 209. Saat ini Merauke mengalami surplus beras, namun menghadapi tantangan pada sektor hilirisasi seperti keterbatasan dryer (pengering), rice milling unit (RMU), silo, dan gudang penyimpanan.

Perwakilan CNRRI Zhonghua Sheng, menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas padi memerlukan pendekatan terpadu.

“Saya lihat disitu memang manajemennya itu butuh ditingkatkan. Kita harus punya SOP (Standar Operasional Prosedur), standarisasi pengolahan, perawatan dari petani yang standar,” ujarnya.

Rapat bersama ini menghasilkan komitmen untuk memperkuat riset dan pengembangan padi secara berkelanjutan, dengan menempatkan masyarakat lokal, khususnya Orang Asli Papua, sebagai pelaku utama dalam program cetak sawah rakyat serta mendorong pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

Kolaborasi ini diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembenahan manajemen dan penguatan hilirisasi agar beras Merauke memiliki kualitas yang konsisten, efisien dalam pengolahan, dan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. 

KEYWORD :

Kementerian Transamigrasi Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Manajemen Padi Kawasan Transmigrasi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :