Kamis, 05/03/2026 01:37 WIB

Waduh, Antarktika Kehilangan Es Seukuran Los Angeles Setiap Tiga Tahun





Riset yang dipimpin ahli glasiologi dari University of California, Irvine memetakan pergerakan garis tumpu di seluruh Antarktika sejak pertengahan 1990-an

Bongkahan es di Kutub Selatan atau Antartika (Foto: Tetiana Grypachevska/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Antarktika tidak mencair sekaligus, melainkan mundur dalam potongan-potongan wilayah yang rentan. Peta jangka panjang terbaru menunjukkan benua es ini kehilangan es daratan (grounded ice) setara luas kota besar seperti Los Angeles setiap tiga tahun.

Riset yang dipimpin ahli glasiologi dari University of California, Irvine memetakan pergerakan garis tumpu (grounding line) di seluruh Antarktika sejak pertengahan 1990-an. Hasilnya menampilkan dua realitas sekaligus: 77 persen garis pantai tetap stabil sejak 1996, tetapi sebagian wilayah lain mengalami kemunduran signifikan.

Dikutip dari Earth, secara kumulatif, sekitar 4.950 mil persegi atau hampir 5.000 mil persegi es daratan hilang dalam 30 tahun terakhir. Rata-rata laju kemunduran setara 171 mil persegi per tahun di sepanjang garis tumpu, angka yang tampak moderat namun menyembunyikan “luka” besar di titik-titik tertentu.

Eric Rignot, profesor ilmu sistem Bumi di UC Irvine, menegaskan pentingnya parameter ini. “Garis tumpu adalah titik tempat es benua bertemu dengan laut, dan pengukuran pergerakan garis tumpu menggunakan radar aperture sintetis berbasis satelit telah menjadi standar emas kami dalam mendokumentasikan stabilitas lapisan es,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kami telah mengetahui selama 30 tahun bahwa hal ini sangat krusial, tetapi baru kali ini kami memetakannya secara komprehensif di seluruh Antarktika dalam rentang waktu yang begitu panjang.” Dengan kata lain, ini adalah catatan benua menyeluruh pertama tentang stabilitas dan kemunduran es Antarktika dalam rentang tiga dekade.

Garis tumpu sendiri merupakan titik engsel antara es yang masih bertumpu di batuan dasar dan es yang sudah mengapung sebagai rak es. Ketika garis ini mundur ke daratan, itu menandakan es kehilangan pijakan dan berpotensi mempercepat kehilangan massa di masa depan.

Kemunduran terbesar terkonsentrasi di Antarktika Barat, Semenanjung Antarktika, dan sebagian Antarktika Timur. Di sektor Laut Amundsen dan Getz, sejumlah gletser surut antara 10 hingga 40 kilometer, membentuk “luka” terdalam di peta baru tersebut.

Beberapa nama yang paling terdampak adalah Pine Island Glacier yang mundur sekitar 21 mil, Thwaites Glacier sekitar 16 mil, dan Smith Glacier hingga 26 mil. Pola ini berkaitan erat dengan intrusi air laut hangat yang mengikis es dari bawah.

“Di tempat-tempat di mana air laut hangat didorong oleh angin hingga mencapai gletser, di situlah kami melihat luka-luka besar di Antarktika,” kata Rignot. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti balon yang tidak bocor di semua sisi, “tetapi di tempat yang bocor, bolanya bocor sangat dalam.”

Meski demikian, tidak semua kemunduran dapat dijelaskan oleh air hangat. Di pesisir timur Semenanjung Antarktika, terjadi migrasi garis tumpu yang signifikan tanpa bukti kuat keberadaan air laut hangat, menandakan adanya faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami.

Untuk menyusun peta ini, tim menggabungkan tiga dekade data radar aperture sintetis (SAR) dari berbagai misi internasional, termasuk satelit milik European Space Agency dan program komersial yang didukung NASA. Pendekatan ini menciptakan “konstelasi radar virtual” yang memungkinkan pemantauan hampir harian di kawasan kutub.

Temuan tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences dan menjadi tolok ukur baru bagi model kenaikan muka laut global. “Model-model tersebut harus mampu menunjukkan bahwa hasilnya selaras dengan catatan 30 tahun ini agar proyeksinya dapat dianggap kredibe,” tegas Rignot.

Data ini sekaligus membawa kabar campuran: sebagian besar Antarktika masih stabil, tetapi titik-titik rapuhnya terus melebar. “Sisi lain dari kenyataan ini adalah bahwa kita seharusnya merasa beruntung karena seluruh Antarktika tidak bereaksi saat ini, karena jika tidak, kita akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar,” ujar Rignot, seraya mengingatkan bahwa stabilitas hari ini belum tentu menjamin masa depan.

Sumber: Earth

KEYWORD :

Es Antarktika Benua Es Pine Island Glacier




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :