Kelompok Kurdi di Iran (Foto: Aljazeera)
Washington, Jurnas.com - Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dikabarkan sedang menjalin komunikasi dan bernegosiasi dengan kelompok kurdi di Iran, di tengah eskalasi yang menciptakan ketidakstabilan di Timur Tengah.
Menurut laporan CNN, pemerintahan Donald Trump mencari cari untuk mempersenjatai kelompok pemberontak tersebut. Namun, hingga Rabu (4/3) belum ada kesepakatan yang tercapai.
CIA memiliki rekam jejak dalam membiayai kelompok pemberontak di berbagai negara. Termasuk, saat melengserkan Presiden RI Soekarno pada akhir 1960-an silam.
CIA juga pernah bekerja sama dengan kelompok Kurdi di Irak yang diinvasi AS pada 2003. Selain itu, Washington mempersenjatai pejuang Kurdi di Suriah untuk melawan mantan Presiden Bashar al-Assar.
"Secara naluriah, ini terasa seperti langkah yang buruk," kata analis Neil Quillian dari lembaga think tank Chatham House. Dia memperingatkan bahwa cara itu dapat memicu lebih banyak konflik internal di Iran.
"Ini adalah gagasan yang muncul belakangan dan tidak termasuk dalam perencanaan besar apa pun untuk mendukung tujuan akhir yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa perang AS-Iran melawan Iran telah dipikirkan dengan matang," dia menambahkan.
Dalam laporan CNN, AS mengakui bahwa komunikasi dengan kelompok Kurdi bertujuan melemahkan militer Iran dan memicu protes rakyat, dengan tujuan akhir menumbangkan rezim pasca gugurnya Ayatullah Ali Khamenei.
Sebelumnya pada Selasa (3/3) kemarin, media AS Axios juga melaporkan bahwa pada Minggu, sehari setelah kampanye pengeboman AS-Israel terhadap Iran dimulai, Trump berbicara dengan para pemimpin dua kelompok Kurdi di Irak yakni Masoud Barzani, yang memimpin Partai Demokrat Kurdistan, dan Bafel Talabani, pemimpin Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK).
Axios mengutip sumber yang mengetahui pertukaran tersebut. Publikasi itu juga melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melobi hubungan AS-Kurdi selama berbulan-bulan. Israel telah membangun jaringan intelijen di antara kelompok-kelompok Kurdi di Iran, Irak, dan Suriah.
Setidaknya satu pemimpin Kurdi, Bafel Talabani, telah mengkonfirmasi percakapan telepon dengan Trump.
"Trump menawarkan kesempatan untuk lebih memahami tujuan AS dan untuk membahas dukungan bersama dalam membangun kemitraan yang kuat antara Amerika Serikat dan Irak," demikian pernyataan resmi PUK dikutip dari Aljazeera pada Kamis (4/3).
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
CIA Lengserkan Soekarno Perang AS vs Iran Kelompok Kurdi Iran


























