Rabu, 04/03/2026 18:49 WIB

Biografi Mojtaba Khamenei, Kandidat Kuat Rahbar Baru Iran





Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sudah lama disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus ayahnya.

Mojtaba Khamenei, kandidat kuat pengganti mendiang Ayatullah Ali Khamenei (Foto: Atlantis Council)

Teheran, Jurnas.com - Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sudah lama disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus ayahnya.

Spekulasi itu menguat setelah serangan udara Israel pada awal perang pekan lalu menewaskan sang ayah, meski Mojtaba tidak pernah memegang jabatan pemerintahan melalui pemilihan atau penunjukan resmi.

Figur yang dikenal tertutup di Republik Islam tersebut tidak terlihat di publik sejak Sabtu, ketika serangan yang menargetkan kantor pemimpin tertinggi menewaskan ayahnya yang berusia 86 tahun.

Istrinya, Zahra Haddad Adel yang berasal dari keluarga berpengaruh dalam sistem teokrasi Iran juga dilaporkan meninggal dunia.

Mojtaba diyakini masih hidup dan kemungkinan bersembunyi di tengah berlanjutnya serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran, meski media pemerintah Iran tidak mengungkap keberadaannya.

Namanya kembali mencuat sebagai calon pengganti, meski wacana suksesi keluarga sebelumnya dikritik karena dinilai berpotensi menyerupai monarki turun-temurun seperti era Shah.

Namun, dengan ayah dan istrinya dipandang sebagai martir oleh kelompok garis keras, posisinya dinilai menguat di mata anggota Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama dan berwenang memilih pemimpin tertinggi baru.

Siapapun yang terpilih akan mengendalikan militer Iran yang kini terlibat perang serta cadangan uranium yang diperkaya tinggi, yang secara teoritis dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir apabila diputuskan demikian.

Peran Mojtaba disebut mirip dengan Ahmad Khomeini, putra pemimpin tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yakni kombinasi ajudan, orang kepercayaan, penjaga akses, dan perantara kekuasaan, menurut kelompok advokasi yang berbasis di AS, United Against Nuclear Iran.

Lahir pada 1969 di Mashhad, sekitar satu dekade sebelum Revolusi Islam 1979, Mojtaba tumbuh ketika ayahnya aktif menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Rabu (4/3).

Biografi resmi Ali Khamenei mencatat peristiwa ketika polisi rahasia SAVAK menggerebek rumah mereka dan memukuli sang ulama, sebelum keluarga diberi tahu bahwa dia pergi berlibur, meski akhirnya sang ayah mengaku memilih mengatakan kebenaran kepada anak-anaknya.

Setelah revolusi, keluarga Khamenei pindah ke Teheran. Mojtaba kemudian terlibat dalam Perang Iran-Irak bersama Batalion Habib ibn Mazahir dari Korps Garda Revolusi Islam. Sejumlah anggota batalion itu kemudian menduduki posisi intelijen penting, diduga dengan dukungan keluarga Khamenei.

Sejak Ali Khamenei menjadi pemimpin tertinggi pada 1989, pengaruh Mojtaba meningkat seiring waktu. Kabel diplomatik AS yang dipublikasikan WikiLeaks pada akhir 2000-an menyebutnya sebagai kekuatan di balik layar, dengan tudingan bahwa dia menjadi penjaga akses utama ayahnya dan membangun basis kekuasaan sendiri.

Dia juga disebut luas di dalam rezim sebagai figur yang cakap dan tegas, meski memiliki keterbatasan kualifikasi teologis dan usia relatif muda saat itu.

Laporan kabel 2008 menyebutkan bahwa karena jaringan, kekayaan, dan aliansinya, Mojtaba dipandang sebagai kandidat masuk akal untuk berbagi kepemimpinan nasional setelah wafatnya sang ayah.

Mojtaba diketahui memiliki kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, termasuk Pasukan Quds dan Basij, yang pernah membubarkan demonstrasi besar. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019 pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, dengan tuduhan membantu ambisi regional dan kebijakan domestik represif ayahnya.

Dia juga dikaitkan dengan dukungan terhadap terpilihnya Presiden garis keras Mahmoud Ahmadinejad pada 2005 dan pemilihan ulang kontroversialnya pada 2009 yang memicu protes Gerakan Hijau. Mantan kandidat presiden Mehdi Karroubi pernah menuduhnya mencampuri proses pemilu tersebut.

Hingga kini, baru satu kali terjadi transisi kekuasaan dalam jabatan pemimpin tertinggi Iran, yakni saat Ruhollah Khomeini wafat dan digantikan oleh Ali Khamenei.

Pemimpin baru nanti akan memegang otoritas tertinggi dalam sistem teokrasi Syiah Iran, termasuk komando tertinggi militer dan Garda Revolusi, yang juga mengendalikan jaringan milisi regional serta arsenal rudal balistik negara itu.

KEYWORD :

Mojtaba Khamenei Suksesi pemimpin Iran Perang Israel vs Israel




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :