Rabu, 04/03/2026 15:40 WIB

Ekuinoks, Maret 2026 Bakal Jadi Momentum Aurora Terbaik Sedekade Terakhir





Pada 20 Maret 2026 pukul 10:46 EDT, Matahari melintasi khatulistiwa langit yang menandai ekuinoks musim semi di Belahan Bumi Utara dan musim gugur di Selatan

Selama periode ekuinoks, medan magnet Bumi dan angin surya berinteraksi dalam konfigurasi yang membuat aurora lebih sering terjadi (Foto: Via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Maret 2026 disebut-sebut berpeluang menjadi bulan terbaik untuk menyaksikan aurora dalam hampir satu dekade terakhir. Kombinasi mekanika langit dan sisa puncak aktivitas Matahari membuat periode ini berpotensi menghadirkan pertunjukan cahaya paling kuat sebelum pertengahan 2030-an.

Pada 20 Maret 2026 pukul 10:46 EDT (14:46 UTC), Matahari melintasi khatulistiwa langit yang menandai ekuinoks musim semi di Belahan Bumi Utara dan musim gugur di Belahan Bumi Selatan. Pada fase ini, sumbu Bumi berada dalam posisi menyamping terhadap Matahari, menciptakan kondisi yang secara statistik meningkatkan peluang kemunculan aurora.

Dikutip dari Live Science, fenomena tersebut dikenal sebagai “efek ekuinoks”, yang menurut penelitian di Journal of Geophysical Research pada 1973 oleh Christopher Russell dan Robert McPherron, dapat melipatgandakan kemungkinan aktivitas aurora pada Maret dan September.

Mereka menjelaskan bahwa medan magnet angin surya yang mengarah ke selatan dapat menetralkan medan magnet Bumi yang mengarah ke utara, sehingga “pintu” magnetosfer lebih terbuka bagi partikel bermuatan untuk masuk dan memicu cahaya di atmosfer atas.

Namun momentum ini terjadi saat siklus aktivitas Matahari mendekati akhir fase puncaknya. NASA bersama National Oceanic and Atmospheric Administration dan International Solar Cycle Prediction Panel melaporkan bahwa Matahari kemungkinan mencapai solar maximum pada Oktober 2024, meski konfirmasi final bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Seiring waktu, jumlah bintik Matahari (indikator kekuatan magnetik) mulai menunjukkan tren penurunan. Met Office pada Januari menyatakan aktivitas tampak melemah, yang berarti frekuensi flare dan lontaran massa korona sebagai pemicu badai geomagnetik juga berpotensi berkurang.

Di sisi lain, NOAA Space Weather Prediction Center memperkirakan Siklus Matahari 26 baru akan dimulai antara 2029 hingga 2032, periode yang umumnya ditandai aktivitas rendah. Karena itu, Maret 2026 bisa menjadi jendela emas terakhir sebelum fase tenang beberapa tahun ke depan mendominasi.

Meski demikian, peluang aurora ekstrem tetap bergantung pada dinamika Matahari yang sulit diprediksi. Awal Februari lalu, satu bintik Matahari terbesar dalam siklus ini sempat memicu aurora hingga lintang yang jauh lebih selatan, tetapi area aktif tersebut kini telah menghilang tanpa kepastian apakah pengganti serupa akan muncul menjelang ekuinoks.

Dengan demikian, Maret 2026 menghadirkan kombinasi faktor paling menjanjikan dalam hampir satu dekade, namun tidak menjamin visibilitas di wilayah yang lebih selatan dari biasanya.

Dengan kata lain, aurora tetap fenomena yang tak bisa dijadwalkan dengan pasti. Jika Anda berada di wilayah lintang tinggi seperti Islandia, Norwegia, Kanada, atau Alaska, Maret 2026 adalah bulan yang patut dipertimbangkan. (*)

KEYWORD :

Maret 2026 Cahaya Aurora Efek Ekuinoks Cahaya Kutub Fenomena Astronomi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :