Senin, 02/03/2026 18:37 WIB

Pakar: Serangan AS-Israel ke Iran Perkuat Ambisi Nuklir Korut





Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran diperkirakan akan semakin menguatkan ambisi nuklir pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara saat berkunjung ke Universitas Pertahanan Nasional di Pyongyang, Korea Utara, 7 Oktober 2024. KCNA via REUTERS

Seoul, Jurnas.com - Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran diperkirakan akan semakin menguatkan ambisi nuklir pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Perundingan untuk membatasi persenjataan nuklir dan rudal balistik Pyongyang sempat digelar melalui sejumlah pertemuan puncak antara Kim dan Trump pada 2018 dan 2019, namun akhirnya gagal mencapai kesepakatan.

Serangan terhadap Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, terjadi dua bulan setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dalam operasi pasukan khusus AS yang diperintahkan Trump.

"Kim pasti berpikir Iran diserang seperti itu karena tidak memiliki senjata nuklir," kata Song Seong-jong, profesor di Daejeon University dan mantan pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan dikutip dari Reuters pada Senin (2/3).

Beberapa hari sebelum serangan AS terhadap Iran, Kim berjanji membangun lebih banyak senjata nuklir dalam kongres partai yang berkuasa, meski tetap membuka peluang dialog bergantung pada sikap Washington.

"Jika Amerika Serikat mencabut kebijakan konfrontasinya terhadap Korea Utara dengan menghormati status negara kami saat ini, tidak ada alasan kami tidak dapat hidup berdampingan dengan baik dengan AS," kata Kim.

Trump berulang kali menyatakan ingin menggelar pembicaraan baru, memicu spekulasi bahwa kedua pemimpin dapat bertemu ketika dia melakukan perjalanan ke China pada 31 Maret hingga 2 April.

Meski demikian, Korea Utara dinilai jauh lebih maju dibanding Iran dalam pengembangan hulu ledak nuklir dan sistem pengirimannya, termasuk rudal balistik antarbenua.

Pada 2022, Korea Utara secara resmi memasukkan hak melakukan serangan nuklir pre-emptif dalam undang-undang, yang menurut Kim menjadikan status nuklirnya tidak dapat diubah.

KEYWORD :

Nuklir Korea Utara Kim Jong Un Trump Perundingan nuklir AS




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :