Senin, 02/03/2026 17:57 WIB

Harga Minyak Mentah Melonjak pasca Meluasnya Perang AS vs Iran





Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen produksi minyak global dan porsi serupa gas alam cair (LNG) yang dikirim melalui kapal

Ilustrasi depo pengisian Bahan Bakar Minyak (Foto: Ist)

Teheran, Jurnas.com - Meluasnya perang antara Amerika Serikat-Israel vs Iran mengganggu aliran minyak ke sejumlah negara Asia, sebab kapal-kapal tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah dan biaya minyak mentah serta transportasi melonjak.

Gangguan ini menyoroti risiko bagi Asia, kawasan konsumen minyak terbesar di dunia, yang memperoleh sekitar 60 persen pasokan minyaknya dari produsen Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa serangan militer AS-Israel dapat berlangsung selama berminggu-minggu, yang berarti gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas melalui Selat Hormuz.

Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen produksi minyak global dan porsi serupa gas alam cair (LNG) yang dikirim melalui kapal dari produsen Timur Tengah.

Serangan pada Minggu merusak tiga kapal tanker dan menewaskan satu awak kapal, sementara serangan awal menyebabkan sekitar 200 kapal menjatuhkan jangkar di dekat Selat Hormuz untuk menghindari risiko.

Pada Senin (2/3), perusahaan asuransi kapal membatalkan perlindungan risiko perang, dan pelaku industri memperkirakan tarif angkut tanker akan melonjak karena operator menjauhkan kapal dari kawasan tersebut.

"Iran tidak secara resmi menutup Selat Hormuz tetapi penghindaran risiko dari pengirim adalah fenomena nyata. Volume transit sudah menurun dengan kapal-kapal parkir di luar selat," kata analis Citi dalam sebuah catatan dikutip dari Reuters.

Harga minyak global naik sekitar 9 persen pada Senin setelah sebelumnya melonjak hingga 13 persen.

"Beberapa kapal tanker minyak mentah yang menuju Jepang dari Timur Tengah menunggu di Teluk Persia, menghindari pelayaran melalui Selat Hormuz," ujar Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, dalam pengarahan.

Perusahaan dagang Jepang Itochu menyatakan mengalami sebagian dampak pada pengiriman minyak mentah dan produk minyak bumi dari Teluk dan akan mencari pasokan dari luar Timur Tengah.

Sementara itu, Eneos, kilang terbesar Jepang, menyatakan akan menilai dampaknya terhadap pengadaan minyak mentah ke depan sambil memantau situasi.

Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan menyebabkan kekurangan pasokan bagi China dan India, importir minyak terbesar dan ketiga terbesar di dunia, yang dapat memaksa negara-negara tersebut menggunakan cadangan strategis dan mengurangi operasi kilang.

Badan Energi Internasional mewajibkan anggotanya menyimpan stok minyak setara setidaknya 90 hari impor bersih. Jepang menyatakan belum memiliki rencana segera untuk melepas cadangan strategisnya, salah satu yang terbesar di dunia.

Perusahaan energi milik negara Indonesia, Pertamina, telah menyiapkan langkah mitigasi risiko dan mengoptimalkan operasi kilang untuk memastikan pasokan bahan bakar dan LPG tetap terjaga. Indonesia merupakan importir bensin terbesar di Asia Tenggara.

KEYWORD :

Penutupan Selat Hormuz Perang AS vs Iran Harga Minyak Mentah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :